Studi terbaru dari Swansea University menyoroti risiko tersembunyi di balik penerapan larangan total media sosial bagi anak-anak dan remaja.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, penelitian yang dipimpin oleh National Centre for Suicide Prevention and Self-Harm Research (NCSR) ini menemukan potensi hilangnya ruang dukungan bagi individu memerlukan bantuan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeneliti utama Dr Amanda Marchant menjelaskan pembatasan ketat justru berpotensi membatasi narasi pemulihan serta komunitas suportif bagi pengguna.
"Sementara pembatasan dapat mengurangi konten berbahaya, hal tersebut juga dapat secara tidak sengaja membatasi narasi pemulihan dan dukungan komunitas," ujar Amanda sebagaimana dilaporkan.
Tim peneliti melakukan survei terhadap lebih dari 5.000 responden serta wawancara mendalam guna memahami efektivitas fitur keselamatan platform daring.
Hasil studi menunjukkan hampir 90 persen responden menginginkan kontrol personal lebih besar atas konten yang mereka saksikan di ruang digital.
Profesor Ann John selaku Direktur NCSR menambahkan bahwa kebijakan pelarangan total berisiko mendorong generasi muda menuju sudut internet yang lebih tersembunyi.
"Bans atau larangan berarti anak-anak dan remaja lebih kecil kemungkinannya mendiskusikan pengalaman media sosial bersama orang dewasa terpercaya," tegas Ann John dalam laporan studi.