Kualitas layanan perawatan hospice mengalami penurunan drastis setelah lembaga tersebut diambil alih oleh perusahaan ekuitas swasta atau private equity serta perusahaan publik atau publicly traded corporation dalam rentang waktu 2010 hingga 2021.
Berdasarkan analisis Kabayan News terhadap laporan Health Affairs, penurunan intensitas perawatan terlihat jelas pada berkurangnya durasi layanan kunjungan perawat terdaftar, pekerja sosial, serta tenaga pembantu hospice rumahan dalam periode 30 hari.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData menunjukkan durasi kunjungan perawat terdaftar turun 5,14 persen, pekerja sosial anjlok hingga 12,32 persen, dan pembantu hospice rumahan berkurang 6,62 persen setelah diambil alih perusahaan ekuitas swasta.
Fenomena penurunan durasi kunjungan serupa juga terjadi pada perusahaan publik dengan penurunan perawat terdaftar mencapai 4,63 persen serta pembantu hospice rumahan turun 9,09 persen, bahkan tren penurunan tersebut berlanjut pada tujuh hari terakhir masa hidup pasien.
Menurut pengamatan Kabayan News, pergeseran kepemilikan sektor kesehatan dari nirlaba menjadi berorientasi laba komersial telah mendominasi industri hospice sejak pendirian manfaatnya pada 1983 silam.
Peningkatan kepemilikan swasta ini berbanding lurus dengan lonjakan anggaran belanja Medicare yang meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni dari 12,9 miliar dolar AS pada 2010 melonjak menjadi 25,7 miliar dolar AS pada 2023.
Para penulis studi mendesak pemerintah meningkatkan transparansi kepemilikan organisasi serta mereformasi kebijakan pembayaran agar selaras dengan kualitas dan intensitas layanan bagi pasien paliatif.