Riset terbaru dari National University of Singapore sukses merekayasa ragi roti agar mampu merasakan sekaligus merespons berbagai warna cahaya melalui teknologi optogenetika. Berdasarkan pengamatan dari pengamat teknologi biologi, metode baru ini memberikan kendali presisi terhadap perilaku seluler menggunakan cahaya merah dan biru tanpa perlu menambahkan zat kimia inducer secara berulang.
Associate Professor Poh Chueh Loo bersama mahasiswa doktoral Linus Tan Yu Han memimpin tim dari NUS Synthetic Biology for Clinical and Technological Innovation serta Department of Biomedical Engineering. Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal ilmiah Nature Communications pada 22 Mei 2026, penelitian tersebut mencatatkan sejarah baru sebagai rekayasa pertama pada satu jenis ragi tunggal untuk merespons lebih dari satu warna cahaya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendala utama dalam pengembangan sebelumnya terletak pada kerentanan protein sensor cahaya merah y-iLight yang turut aktif saat terkena cahaya biru. Untuk mengatasi masalah crosstalk tersebut, tim peneliti menerapkan strategi rekayasa protein modular guna menekan aktivasi cahaya biru yang tidak diinginkan tanpa menghilangkan sensitivitas terhadap cahaya merah.
Keberhasilan memadukan sistem sensor cahaya merah y-iLight dengan sistem sensor cahaya biru EL222 memungkinkan pengaturan dua saluran ekspresi gen secara independen dalam satu jenis ragi yang sama. Mengutip laporan dari tim peneliti, pencapaian tersebut mengatasi hambatan besar dalam biologi sintetik terkait pengendalian genetik kompleks berbasis warna.
Penerapan teknologi ganda ini dibuktikan saat tim mengontrol produksi luteolin, senyawa kimia alami dari tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Melalui pengaturan proporsi serta waktu pencahayaan merah dan biru secara tepat, ragi dapat memproduksi senyawa tersebut sekaligus memberikan wawasan mendalam mengenai kinerja enzim di dalam kultur.
Pemanfaatan optogenetika juga merambah pada pengendalian perilaku fisik ragi dengan menghubungkan gen flokulasi FLO1 ke sakelar genetik yang aktif akibat paparan cahaya merah. Melalui eksperimen tersebut, sel ragi mampu menggumpal lalu tenggelam secara presisi, menunjukkan potensi besar dalam menciptakan strategi biomanufaktur modern yang lebih bersih dan terprogram.