Terobosan medis membanggakan berhasil dicapai oleh tim peneliti University of Pittsburgh dalam upaya membantu pasien stroke menyambungkan kembali fungsi otak dan anggota gerak tubuh. Melalui uji klinis fase awal yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine, para ilmuwan memanfaatkan perangkat stimulasi listrik implan untuk meningkatkan mobilitas tangan dan lengan pada tujuh penyintas stroke yang mengalami defisit motorik berat.
Berdasarkan laporan penelitian tersebut, seluruh partisipan menunjukkan efek positif yang signifikan setelah menjalani pelatihan gerakan tanpa rasa sakit selama kurang dari sembilan jam. Rata-rata dari mereka mengalami peningkatan kekuatan lengan sebesar 32 persen, perbaikan mobilitas secara keseluruhan, serta penurunan kekakuan otot abnormal akibat kerusakan jalur saraf.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDr. Marco Capogrosso selaku direktur laboratorium stimulasi saraf tulang belakang di UPMC Rehabilitation Institute menjelaskan bahwa teknologi ini berfungsi memperkuat sinyal alami dari otak yang melemah pasca stroke. Penggunaan elektroda tipis yang ditanam di sepanjang leher ini mengirimkan sinyal listrik ke serat saraf sensorik guna memulihkan komunikasi antara otak dan otot yang melemah.
Metode inovatif ini dinilai memberikan perubahan besar dalam cara penanganan rehabilitasi pasien stroke yang biasanya melambat drastis setelah enam bulan pertama. Pengamat kesehatan menilai kehadiran perangkat medis ini berpotensi besar membantu ratusan ribu pasien yang menghadapi kelemahan kronis pada tangan dan lengan setiap tahunnya di Amerika Serikat.
Salah satu partisipan dalam uji klinis ini adalah Alex Signorini, seorang pria berusia 66 tahun asal Hempfield yang kehilangan mobilitas lengan kanan akibat stroke hemoragik lima tahun lalu. Melalui keterlibatannya dalam penelitian University of Pittsburgh, Signorini merasakan peningkatan instan pada kemampuan menggerakkan lengannya, termasuk mewujudkan impian sederhananya untuk memeluk kembali orang terkasih dengan kedua belah lengan.
Tim peneliti saat ini tengah merekrut lebih banyak peserta untuk uji klinis lanjutan guna mengkaji efektivitas stimulasi jangka panjang beserta kombinasinya dengan terapi fisik. Para ahli optimistis teknologi medis canggih ini bisa mendapatkan persetujuan resmi untuk penggunaan klinis dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun mendatang.