Terapi kombinasi anlotinib plus kemoterapi CapeOX menunjukkan aktivitas antitumor yang sebanding dengan bevacizumab pada pasien kanker kolorektal metastatik. Berdasarkan hasil uji klinis fase 3 ANCHOR yang dirilis pada 2026, studi melibatkan total 748 pasien di beberapa pusat kesehatan.
Kanker kolorektal menempati posisi ketiga sebagai jenis kanker yang paling sering didiagnosis dan menyumbang 9,3 persen kematian akibat kanker di seluruh dunia. Sekitar 15 hingga 30 persen pasien pada awalnya datang dengan kondisi metastasis yang memperberat tingkat mortalitas.
Penelitian melibatkan pasien dengan status RAS atau BRAF wild-type yang secara acak dibagi menerima anlotinib atau bevacizumab dikombinasikan dengan oxaliplatin dan capecitabine. Median tindak lanjut tercatat selama 25,1 bulan hingga batas data pada Februari 2025.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHasil analisis menunjukkan median kelangsungan hidup bebas progresif mencapai 11,0 bulan pada kelompok anlotinib maupun kelompok pembanding bevacizumab. Meskipun demikian, kelompok anlotinib memiliki kejadian efek samping terkait pengobatan derajat 3 atau lebih yang sedikit lebih tinggi.
Evaluasi Keselamatan dan Hasil Studi ANCHOR
Studi ini memberikan wawasan mendalam bagi para onkolog dalam menentukan opsi lini pertama pengobatan kanker kolorektal metastatik di masa depan. Evaluasi lanjutan terus dilakukan untuk mengoptimalkan profil keamanan terapi berbasis penghambat tirosin kinase.
Sebanyak 373 pasien dimasukkan ke dalam kelompok anlotinib dan 375 pasien lainnya dialokasikan ke kelompok bevacizumab selama rentang Mei 2021 hingga Agustus 2023. Karakteristik awal kedua kelompok pasien tersebut umumnya sebanding dan mayoritas merupakan etnis Tionghoa.
Insiden efek samping terkait pengobatan dengan derajat 3 atau lebih tercatat masing-masing sebesar 64,9 persen pada kelompok anlotinib dan 44,8 persen pada kelompok bevacizumab. Mayoritas penghentian pengobatan disebabkan oleh progresi penyakit yang dialami oleh pasien.
Anlotinib bekerja sebagai penghambat tirosin kinase multi-target molekul kecil berspektrum luas yang menghambat jalur pensinyalan penting pada pertumbuhan tumor. Terapi oral ini menawarkan kemudahan administrasi bagi pasien dibandingkan agen antibodi monoklonal intravena.
Kendati gagal mencapai batas non-inferioritas prasetel untuk kelangsungan hidup bebas progresif, kombinasi anlotinib tetap menunjukkan potensi antitumor yang menjanjikan. Toksisitas yang timbul selama uji klinis dilaporkan masih dapat dikelola oleh tim medis.
Para peneliti menyimpulkan bahwa data dari uji klinis ANCHOR memperkaya opsi terapeutik baru dalam penanganan kanker kolorektal metastatik di tingkat global. Penelitian lanjutan diperlukan guna menyaring subkelompok pasien yang paling diuntungkan dari terapi ini.