Pakistan Petroleum Dealers Association melayangkan ultimatum selama 72 jam kepada pemerintah akibat kegagalan memenuhi janji penyelesaian masalah sektor ritel bahan bakar minyak. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, aksi tegas tersebut ditempuh menyusul kekecewaan mendalam para pengusaha stasiun pengisian bahan bakar terhadap kebijakan harga harian dan rendahnya marjin keuntungan.
Ketua PPDA Malik Khuda Bakhsh menyampaikan bahwa kesabaran para pemilik SPBU telah habis setelah perundingan bersama Menteri Perminyakan Ali Pervaiz Malik menemui jalan buntu. Sebagaimana dilaporkan, asosiasi mendesak kenaikan margin ritel bensin sebesar 8 persen guna menutupi lonjakan biaya operasional yang kian memberatkan lebih dari 14.000 anggota di seluruh negeri.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan dari konferensi pers PPDA, para pengusaha minyak menegaskan bahwa sistem penetapan harga harian telah memicu kerugian inventaris parah serta menggerus modal kerja secara signifikan. Biaya operasional seperti tagihan listrik, gas, serta gaji karyawan sudah tidak sebanding dengan komisi yang diterima saat ini.
Selain tuntutan margin, asosiasi juga mengecam keras kebijakan alokasi perusahaan yang dinilai diskriminatif dan merugikan bisnis para dealer. Dari analisis Kabayan News, tekanan internal dari belasan ribu anggota membuat asosiasi harus mengambil langkah konfrontatif jika pemerintah gagal merealisasikan janji rekonsiliasi dalam kurun waktu dua pekan yang sebelumnya telah disepakati.
Ancaman penutupan massal ini dipastikan bakal melumpuhkan distribusi energi domestik apabila tuntutan tidak diakomodasi sebelum batas waktu berakhir pada akhir pekan ini. Pemerintah kini berada di bawah tekanan berat untuk segera merespons tuntutan asosiasi demi menghindari krisis pasokan bahan bakar nasional yang lebih luas.