Perlombaan kecerdasan buatan atau AI di kalangan perusahaan teknologi raksasa ternyata membawa dampak kurang menyenangkan bagi para karyawan di dalamnya. Kehadiran teknologi yang menjanjikan efisiensi tinggi justru membuat jam kerja pegawai semakin panjang dan menyita waktu istirahat mereka.
Sejumlah pekerja dari OpenAI, Anthropic, Meta, hingga Google mengungkapkan bahwa mereka harus menghadapi jadwal kerja yang melelahkan akibat proyek AI yang menuntut penyelesaian cepat. Padahal, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki data yang menunjukkan bahwa alat berbasis AI benar-benar mampu membantu menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeOpenAI menyatakan bahwa alat AI seperti Codex telah menjadi instrumen utama di berbagai departemen termasuk legal, keuangan, hingga perekrutan. Seiring meningkatnya kemampuan alat tersebut, karyawan justru menyerahkan tugas yang lebih kompleks dan mengambil porsi pekerjaan di luar peran biasa mereka.
Anthropic juga mencatat angka internal yang menunjukkan bahwa sebagian besar kode dalam basis kode mereka ditulis oleh Claude. Peningkatan volume pekerjaan ini pada akhirnya memicu jam kerja yang jauh lebih intensif bagi para insinyur di perusahaan tersebut.
Dampak Produktivitas AI terhadap Beban Kerja Karyawan
Studi yang sedang berlangsung dari UC Berkeley memberikan penjelasan menarik terkait fenomena meningkatnya beban kerja di tengah adopsi teknologi modern. Peneliti menemukan bahwa karyawan yang menggunakan AI generatif memang bekerja lebih cepat, tetapi mereka justru memperluas cakupan pekerjaan yang ingin diselesaikan.
Akibatnya, aktivitas pekerjaan mulai merambah ke waktu istirahat yang sebelumnya steril dari urusan kantor. Fenomena ini sering kali terjadi secara alami tanpa ada instruksi eksplisit dari pihak manajemen untuk bekerja lembur lebih lama.
OpenAI sebenarnya sempat mengusulkan gagasan positif terkait efisiensi ini melalui kebijakan industri era kecerdasan buatan. Mereka menyarankan uji coba minggu kerja empat hari atau 32 jam apabila AI terbukti berhasil memangkas beban kerja rutin dan biaya operasional perusahaan.
Pertanyaan besar yang masih tersisa adalah siapa pihak yang berhak menikmati waktu luang tambahan tersebut jika alat canggih ini terbukti mampu mengembalikan jam kerja manusia. Hal ini tentu menjadi perdebatan menarik di tengah ambisi industri teknologi dalam mengejar dominasi AI.