Pekerja industri kecerdasan buatan atau AI di berbagai perusahaan teknologi raksasa saat ini menghadapi jam kerja sangat panjang hingga mencapai 90 jam dalam seminggu. Berdasarkan laporan, klaim para eksekutif industri bahwa teknologi AI bakal meringankan beban kerja serta memangkas jam kerja karyawan justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.
Pengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa janji manis para pemimpin teknologi seperti OpenAI, Google, hingga Meta mengenai terciptanya efisiensi kerja dan pekan kerja empat hari tidak dirasakan oleh para staf pengembangnya. Alih-alih bersantai, para karyawan justru terjebak dalam budaya kerja sangat melelahkan dengan rapat krisis yang sering diadakan serta tuntutan peninjauan performa kerja sangat ketat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana dilaporkan, mantan pegawai OpenAI mengungkapkan bahwa dirinya harus bekerja hingga 70 jam seminggu atau bahkan menembus 90 jam selama periode rilis produk baru atau yang disebut sebagai masa "sprint". Situasi serupa juga dialami oleh para pekerja di Meta yang dipindahkan secara paksa ke dalam tim proyek AI mendesak tanpa memiliki pilihan untuk menolak penugasan tersebut.
Studi dari UC Berkeley memperkuat temuan bahwa penggunaan alat AI justru membuat beban kerja karyawan semakin bertambah karena tuntutan kecepatan kerja lebih tinggi serta keharusan memeriksa hasil keluaran sistem secara terus-menerus. Pakar inovasi MIT menyatakan bahwa penghematan waktu dari teknologi tersebut langsung tersedot kembali oleh penyesuaian sistem dan kemunculan tugas-tugas baru di lingkungan korporasi.