Gelembung ekonomi Jepang mencatatkan sejarah kelam fenomena lonjakan harga aset serta aktivitas finansial berlebihan antara tahun 1986 hingga 1991. Berdasarkan catatan historis, periode tersebut ditandai oleh ekspansi kredit tidak terkontrol serta spekulasi pasar saham masif yang membuat harga properti melonjak secara drastis.
Kebijakan ekonomi longgar dari Bank of Japan berperan besar dalam memicu kenaikan harga aset setelah penandatanganan Plaza Accord pada tahun 1985. Sebagaimana dilaporkan dalam berbagai kajian ekonomi, upaya mencegah apresiasi yen yang terlalu kuat melalui pelonggaran moneter justru memicu gelombang spekulasi liar di berbagai sektor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDampak dari lonjakan harga tersebut sangat terasa di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, di mana harga tanah komersial melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat. Dari analisis Kabayan News, tingginya konsentrasi aktivitas finansial di pusat ibu kota memperparah ketidakseimbangan pasar properti nasional saat itu.
Keruntuhan gelembung ekonomi mulai tampak ketika Bank of Japan mengetatkan kebijakan moneter, menyebabkan indeks saham Nikkei merosot tajam pada pertengahan tahun 1990. Meletusnya gelembung ini meninggalkan tumpukan kredit macet masif dan menjerumuskan perekonomian nasional ke dalam fase penurunan berkepanjangan yang dikenal sebagai dekade hilang.