Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Krisis Finansial Panic of 1884,...
EKONOMI

Krisis Finansial Panic of 1884, Skandal Ponzi Grant and Ward

By Dewi Lestari • 2 min read • 13 Agustus 2026
Ilustrasi krisis keuangan Panic of 1884 yang mengguncang Wall Street dan perbankan Amerika Serikat

Ilustrasi krisis keuangan Panic of 1884 yang mengguncang Wall Street dan perbankan Amerika Serikat

Panic of 1884 merupakan kepanikan ekonomi tidak biasa yang melanda Amerika Serikat di tengah bayang-bayang Depresi 1882 hingga 1885. Krisis ini tergolong unik karena justru menghantam perekonomian pada fase akhir resesi alih-alih pada permulaannya.

Berdasarkan analisis sejarah ekonomi, kekurangan cadangan emas di Eropa memaksa bank-bank nasional New York menghentikan investasi luar daerah serta menagih pinjaman secara masif. Kebijakan tersebut memicu kelangkaan kredit yang mengubah resesi biasa menjadi depresi mendalam.

Akar krisis semakin runyam akibat ulah Ferdinand Ward dan Ulysses Buck Grant Jr. yang mendirikan perusahaan pialang Grant and Ward. Ward menjalankan skema Ponzi busuk dengan menjanjikan keuntungan fantastis sepuluh persen setiap bulan, sementara dana investor justru dipakai menambal kerugian investasi spekulatif.

Skandal penipuan tersebut akhirnya terbongkar ketika Marine National Bank mengalami kegagalan akibat penurunan simpanan kota. Runtuhnya perusahaan pialang Grant and Ward bersama Marine National Bank langsung memicu efek domino di kawasan Wall Street.

Situasi krisis kian memburuk setelah John Chester Eno melakukan penggelapan dana senilai lebih dari tiga juta dolar dari Second National Bank. Beruntung, tindakan cepat New York Clearing House dalam memberikan pinjaman likuiditas berhasil meredam kepanikan agar tidak meluas secara nasional.

Topics
panic of 1884 krisis keuangan ferdinand ward wall street sejarah ekonomi amerika serikat perbankan
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.