Lonjakan harga bahan bakar jet hantam laba Lufthansa secara signifikan pada kuartal kedua tahun ini di tengah tekanan geopolitik global yang kian memanas.
Berdasarkan laporan keuangan resmi yang dirilis pada Selasa, maskapai penerbangan asal Jerman tersebut mencatatkan penurunan laba inti hampir 56 persen menjadi 383 juta euro atau setara dengan 440 juta dolar AS.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan pengamatan dari analisis awak media, pembengkakan biaya operasional ini tidak terlepas dari gangguan pasokan energi global akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang terus berlanjut.
Pihak manajemen mengungkapkan bahwa tingginya harga bahan bakar telah mengerek biaya operasional perusahaan hingga membengkak sekitar 750 juta euro sepanjang periode tersebut.
"Kuartal kedua dicirikan oleh biaya bahan bakar yang sangat tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat," ujar Chief Financial Officer Lufthansa, Till Streichert.
Kendati demikian, manajemen tetap optimistis bahwa kedisiplinan biaya serta optimalisasi jaringan penerbangan akan mampu menyeimbangkan beban finansial ke depan.
"Kami yakin bahwa konsistensi eksekusi strategi, disiplin biaya, optimalisasi jaringan, dan permintaan yang tetap tinggi akan mengimbangi sebagian besar kenaikan biaya," tambahnya.
Akibat hantaman krisis biaya bahan bakar ini, Lufthansa terpaksa merevisi proyeksi laba inti tahun 2026 ke kisaran 1,7 hingga 2,2 miliar euro.