Monetarisme merupakan mazhab pemikiran dalam ekonomi makro yang menekankan peran pengambil kebijakan dalam mengendalikan jumlah uang beredar di masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa variasi pasokan uang memiliki pengaruh besar terhadap output nasional dalam jangka pendek serta tingkat harga dalam jangka panjang. Pengamat Kabayan News mencatat bahwa para pendukung monetarisme meyakini tujuan kebijakan moneter dapat tercapai secara optimal melalui penargetan tingkat pertumbuhan pasokan uang daripada menggunakan kebijakan moneter diskresioner.
Mazhab ini utamanya diasosiasikan dengan pemikiran Milton Friedman, seorang penentang berpengaruh terhadap ekonomi Keynesian yang mengkritik teori perang terhadap kelesuan ekonomi menggunakan kebijakan fiskal pemerintah. Berdasarkan analisis Kabayan News, Friedman bersama Anna Schwartz menulis buku berpengaruh berjudul A Monetary History of the United States, 1867-1960. Melalui karya tersebut, mereka berargumen bahwa inflasi selalu dan di mana pun merupakan fenomena moneter yang timbul akibat ekspansi berlebihan pada pasokan uang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam penerapannya, Friedman mengusulkan aturan moneter tetap yang dikenal sebagai aturan k-persen, di mana pasokan uang harus ditingkatkan secara otomatis oleh persentase tetap setiap tahun guna mengimbangi pertumbuhan produk domestik bruto riil. Sebagaimana dilaporkan dalam literatur ekonomi sejarah, popularitas pemikiran ini melonjak di kalangan politik ketika pandangan neo-Keynesian gagal mengatasi masalah pengangguran dan inflasi secara bersamaan pada dekade 1970-an.
Meskipun sempat menjadi landasan kebijakan penting di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Paul Volcker serta di Inggris di bawah kepemimpinan Margaret Thatcher, dominasi monetarisme berlangsung relatif singkat. Bank-bank sentral utama kemudian beralih menuju penargetan inflasi langsung dengan mengandalkan suku bunga jangka pendek sebagai instrumen utama kebijakan mereka karena kesulitan mengidentifikasi hubungan stabil antara agregat moneter tradisional dan inflasi.