Sebagaimana diwartakan oleh media keuangan, PT Vale Indonesia Tbk melalui induknya Vale (VALE3) kerap dipandang sebagai emiten "vaca leiteira" yang royal membagikan dividen namun minim ruang ekspansi. Kendati demikian, perusahaan terus berupaya mendobrak citra tersebut lewat anak usahanya, Vale Base Metals (VBM).
Divisi yang menggarap komoditas tembaga dan nikel ini menunjukkan performa operasional moncer sepanjang beberapa kuartal terakhir. "Dengan Base Metals, Vale dapat mengisi celah pertumbuhan yang kini sulit dicapai lewat sektor minério de ferro," ujar analis Equity Research Ativa Investimentos, Ilan Arbetman, sebagaimana dikutip dari laporan.
Berdasarkan laporan kinerja kuartal kedua, VBM mencatatkan lonjakan Ebitda hingga 79 persen secara tahunan. Kontribusi lini bisnis ini terhadap total pendapatan konsolidasi Vale melonjak signifikan dari 10 persen pada 2024 menjadi 22 persen, dengan target jangka panjang menembus angka 35 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, analis Ágora Investimentos, Renato Chanes, menilai pelaku pasar masih menggunakan valuasi konvensional saat menilai saham VALE3. "Pasar masih memperdagangkan saham ini dengan menggunakan kelipatan minério de ferro konvensional," ungkapnya mengutip laporan media setempat.
Lonjakan permintaan global seiring transisi energi hijau turut mendongkrak harga tembaga di pasar berjangka hingga lebih dari 44 persen dalam setahun terakhir. Kebutuhan masif dari sektor kecerdasan buatan atau data centers serta elektrifikasi kendaraan bermotor menjadi motor penggerak utama pasar tembaga dunia.