South Sea Company merupakan perusahaan saham gabungan Inggris yang didirikan pada Januari 1711 sebagai kemitraan publik-swasta guna mengonsolidasikan dan menekan biaya utang nasional. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, perusahaan ini dibentuk ketika Inggris terlibat dalam perang dan menghadapi tantangan finansial yang kompleks.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, ekspansi operasional perusahaan tersebut berfokus pada pengelolaan utang pemerintah dan monopoli perdagangan budak Afrika yang dikenal sebagai Asiento de Negros. Meskipun perdagangan riil tidak pernah mendatangkan keuntungan signifikan, nilai saham perusahaan melonjak drastis sebelum akhirnya mengalami kejatuhan fantastis pada tahun 1720.
Tragedi kejatuhan harga saham tersebut dikenal luas sebagai South Sea Bubble, sebuah gelembung ekonomi terkenal yang menghancurkan ribuan investor dan melemahkan perekonomian nasional Inggris. Penyelidikan parlemen kemudian mengungkap adanya praktik perdagangan orang dalam serta penyuapan politikus untuk memuluskan regulasi pendirian perusahaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum krisis tersebut terjadi, Kanselir Exchequer Robert Harley merancang strategi restrukturisasi utang negara yang melibatkan konsorsium swasta serta penyelenggaraan lototeri negara yang sukses besar. Kebijakan itu mendasari pembentukan South Sea Company untuk mengambil alih utang pemerintah dengan imbalan pembayaran bunga tahunan serta hak monopoli perdagangan.