Upaya menekan angka kemiskinan di Pulau Dewata terus menjadi sorotan para pengamat dan akademisi. Berdasarkan laporan media, pembukaan lapangan kerja yang lebih luas dinilai sebagai motor penggerak utama untuk meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mengikis angka pengangguran.
Akademisi Universitas Warmadewa, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, mengungkapkan bahwa sektor pariwisata beserta industri pendukungnya memegang peranan krusial dalam menyerap tenaga kerja. Selain itu, penguatan sektor informal juga dipandang sama pentingnya guna membantu masyarakat menjaga daya beli di atas garis kemiskinan.
"Lapangan kerja itu sangat penting, terutama di sektor pariwisata dan industri pendukungnya," ujar Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa sebagaimana dikutip dari laporan RRI.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, peningkatan pendapatan tersebut harus berjalan beriringan dengan pengendalian biaya hidup. Pasalnya, lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan berpotensi membuat masyarakat kembali jatuh ke jurang kerentanan ekonomi.
Lebih lanjut, Suyatna Yasa menyoroti adanya kesenjangan produktivitas antarsektor pekerjaan di Bali. Sebagian besar penduduk miskin di pedesaan masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian yang memiliki produktivitas lebih rendah jika dikomparasikan dengan sektor pariwisata dan industri pengolahan.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah didorong untuk segera menyusun peta jalan atau roadmap kebutuhan tenaga kerja jangka panjang. Langkah ini dinilai mendesak agar sistem pendidikan dapat beradaptasi secara presisi dengan kebutuhan pasar kerja dalam satu dekade mendatang.
"Harus ada peta jalan tentang kebutuhan tingkat pendidikan dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan," tambahnya.
Pemetaan komprehensif ini diyakini mampu memangkas ketidaksesuaian antara profil lulusan lembaga pendidikan dan kebutuhan industri nyata di lapangan. Mengingat fenomena pengangguran terdidik dari kalangan diploma hingga sarjana masih kerap dijumpai, penyesuaian kurikulum dan keterampilan menjadi harga mati.
Peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan juga harus merata hingga ke wilayah Bali bagian timur, barat, dan utara yang memerlukan perhatian khusus. Melalui sinergi antara penyediaan lapangan kerja dan peningkatan kompetensi, masyarakat Bali diharapkan mampu menggapai kesejahteraan yang berkelanjutan.