Pertumbuhan ekonomi pesat yang dialami China selama 50 tahun terakhir telah mengubah negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi global. Pembangunan infrastruktur secara masif, mulai dari kereta cepat, jembatan megah, hingga pencakar langit, berhasil mengangkat statusnya menjadi pabrik dunia. Kendati demikian, kesuksesan luar biasa ini kini membawa konsekuensi baru yang menyerupai permasalahan negara-negara maju.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Model "engineering state" atau negara rekayasa yang diterapkan pemerintah pusat China membuat para pemimpin yakin bahwa tantangan ekonomi dapat diselesaikan melalui perencanaan dan pembangunan fisik. Namun, pendekatan ini memicu overbuilding dan investasi yang kurang efisien (malinvestment). Era kejayaan pengembang properti di awal tahun 2000-an yang diwarnai gaya hidup mewah kini berganti menjadi krisis sektor real estat yang membebani perekonomian.
Di sisi lain, melambatnya laju ekonomi berdampak langsung pada pasar tenaga kerja, khususnya bagi generasi muda. Banyak lulusan muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan kantoran (white-collar jobs). "Kondisi ini membuat sebagian anak muda memilih untuk tidak berpartisipasi dalam dunia kerja sama sekali," ungkap laporan tersebut, mencerminkan adanya fenomena keputusasaan di tengah bayang-bayang masa depan ekonomi yang penuh ketidakpastian.