Empat tahun setelah kejayaan di Lusail Stadium pada Qatar 2022, Argentina kini memiliki kesempatan emas untuk menjadi tim ketiga dalam sejarah yang berhasil mempertahankan mahkota Piala Dunia. Dipimpin oleh megabintang legendaris Lionel Messi, sang juara bertahan justru tidak diunggulkan saat bersua jawara Eropa, Spain, pada laga final hari Minggu mendatang.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Spain melangkah ke partai puncak dengan status tim peringkat satu dunia dan favorit utama turnamen. Meski sempat mendapat sorotan setelah ditahan imbang tim debutan Cape Verde di laga pembuka, skuad asuhan Luis de la Fuente ini berhasil membungkam keraguan publik setelah menyingkirkan tim kuat France di babak semifinal.
Luis de la Fuente membawa keunikan tersendiri dalam skuadnya dengan tidak memanggil satu pun pemain Real Madrid. Pelatih berusia 65 tahun itu lebih memilih mempercayai pilar-pilar Barcelona seperti Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun di lini pertahanan. "Untuk saya, tim terbesar yang ada adalah tim nasional Spain. Saya tidak melihat dari mana pemain berasal, yang penting adalah mereka bangga mewakili negaranya," ujar de la Fuente.
Kekuatan utama Spain terletak pada lini tengah mereka yang dinamis. Rodri yang merupakan peraih Ballon d'Or 2024 akan berduet dengan Fabian Ruiz untuk mengontrol permainan, ditopang oleh Dani Olmo sebagai kreator serangan dan Lamine Yamal di sektor sayap. Di ujung tombak, Mikel Oyarzabal menjadi ancaman nyata lewat torehan lima golnya sepanjang turnamen.
Di kubu lawan, Argentina melaju ke final setelah mencatatkan kemenangan comeback 2-1 atas England di semifinal. Tim Tango sempat didominasi sebelum akhirnya bangkit di babak kedua dengan penguasaan bola mencapai 64 persen. Strategi serangan balik cepat dan efektivitas memanfaatkan peluang menjadi kunci sukses anak asuh Lionel Scaloni tersebut.
Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun tetap menjadi tumpuan utama Albiceleste. Dengan koleksi delapan gol, Messi hampir dipastikan menyabet gelar Golden Boot. Perannya sebagai kreator juga terbukti krusial saat mengirimkan dua assist untuk gol penyeimbang Enzo Fernandez dan gol kemenangan dramatis yang dicetak Lautaro Martinez pada masa injury time.
Sektor pertahanan Argentina yang dikomandoi duet Lisandro Martinez dan Cristian Romero sempat menuai kritik pedas dari pundit Gary Neville yang menyebut mereka sebagai "duet bek tengah terbaik sekaligus terburuk di dunia". Neville menilai mereka kerap melakukan blunder namun juga sering tampil heroik di saat krusial, sebuah komentar yang langsung dibantah oleh Romero sebagai opini yang konyol.
Pertandingan final ini tidak hanya menyajikan duel taktik antara dua tim raksasa, melainkan juga panggung pembuktian bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan Barcelona. Publik dunia kini menanti apakah magis sang legenda Lionel Messi atau sentuhan bintang muda Lamine Yamal yang akan mengukir sejarah baru di Amerika Serikat.