Ateisme merupakan pandangan filosofi yang menolak percaya atau tidak meyakini keberadaan Tuhan dan dewa-dewi, sekaligus penolakan terhadap teisme tanpa disertai klaim tertentu. Seseorang yang menganut pandangan ini dan tidak mengakui adanya Tuhan dikenal sebagai ateis.
Istilah ateisme berasal dari bahasa Yunani atheos, yang pada masa lampau secara peyoratif dipakai untuk merujuk pihak yang pemahamannya bertentangan dengan agama mapan. Seiring perkembangan pemikiran bebas serta skeptisisme ilmiah, makna istilah tersebut mengalami penypesifikasian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBanyak penganut ateisme bersikap skepsis terhadap fenomena paranormal akibat kurangnya bukti empiris pendukung. Sebagian kalangan lainnya menyampaikan argumen dengan landasan filosofis, sosial, maupun historis yang beragam.
Dalam kebudayaan Barat, individu ateis sering kali disamakan dengan orang yang tidak beragama atau ireligius. Walaupun banyak dari mereka cenderung mendekati filosofi sekuler seperti humanisme dan rasionalisme, tidak ada ideologi tunggal yang mengikat seluruh ateis.
Sejarah Istilah dan Pembagian Ateisme
Pada abad ke-18 di Eropa, kata ateisme mulai dipakai secara luas untuk merujuk pada ketidakpercayaan terhadap Tuhan monoteis. Memasuki abad ke-20, proses globalisasi memperluas definisi tersebut mencakup ketidakpercayaan pada semua dewa.
Para penulis dan filsuf membedakan ateisme ke dalam beberapa kategori, seperti ateisme implisit dan eksplisit. Pembagian ini membedakan antara ketiadaan kepercayaan teistik secara alami tanpa penolakan sadar hingga penolakan yang dilakukan secara sadar.
Selain itu, terdapat pula pembedaan antara ateisme kuat dan lemah dalam literatur filosofi. Ateisme kuat merupakan penegasan bahwa Tuhan tidak ada, sementara ateisme lemah mencakup seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya.
Pluralitas dalam konsep ketuhanan memunculkan berbagai perbedaan pemikiran mengenai penerapan istilah tersebut. Perdebatan mengenai definisi ini terus berlanjut di kalangan komunitas filosofi dan keagamaan modern.