Agama Buddha atau Buddhisme dikenal sebagai tradisi filosofis berlandaskan ajaran Siddhattha Gotama yang lahir di India kuno. Sebagai salah satu agama utama dunia dengan pengikut terbanyak keempat, ajaran ini memuat berbagai ilmu, nilai tradisi, filosofi, meditasi, serta praktik spiritual yang tersebar luas ke berbagai penjuru Asia.
Sang Buddha dikenal oleh para pengikutnya sebagai guru agung yang membagikan kebijaksanaan untuk membantu makhluk hidup mengakhiri penderitaan. Melalui pemahaman melenyapkan kebodohan batin, keserakahan, dan kebencian, seseorang dapat mencapai ketenangan tertinggi atau Nibbāna dengan mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam perkembangannya, Buddhisme memiliki dua aliran arus utama yang diakui secara umum oleh para ahli, yakni Theravāda dan Mahāyāna, serta aliran Vajrayāna. Masing-masing aliran memiliki wilayah persebaran dan karakteristik tersendiri, mulai dari Asia Tenggara hingga Asia Timur dan kawasan Himalaya.
Seluruh aliran dalam tradisi ini berpegang pada kitab suci Tripitaka sebagai referensi utama yang mencatat sabda serta ajaran Sang Buddha. Naskah-naskah suci tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga keranjang ajaran yang menggunakan bahasa klasik seperti Pāli dan Sanskerta sesuai dengan tradisi alirannya masing-masing.
Akar Sejarah dan Gerakan Sramana di India Kuno
Secara historis, akar Buddhisme terletak pada pemikiran religius masyarakat India kuno selama paruh kedua dari milenium pertama SM. Masa tersebut merupakan periode pergolakan sosial dan keagamaan akibat ketidakpuasaan terhadap ritual pengorbanan dari Brahmanisme Weda.
Tantangan besar muncul dari kelompok keagamaan asketis dan filosofis baru yang menolak otoritas Weda serta para brahmana. Kelompok yang dikenal sebagai sramana ini membawa gagasan baru mengenai tumimbal lahir, hukum karma, serta upaya pembebasan jiwa dari siklus penderitaan duniawi.
Wilayah Magadha Raya menjadi pusat pertumbuhan gerakan-gerakan non-Weda tersebut sebelum akhirnya pengaruh Brahmanisme masuk secara signifikan ke kawasan timur. Gerakan ini berbagi kosakata konseptual yang sama seperti atman, dhamma, karma, nirvana, dan saṃsāra dalam diskursus filosofis mereka.
Kritik utama yang disampaikan oleh Siddhattha Gotama ditujukan pada praktik pengorbanan hewan dalam tradisi Weda masa itu. Meskipun demikian, gerakan ini tetap menjadi fondasi penting bagi perkembangan pemikiran spiritual yang menjunjung tinggi nilai moralitas dan kedamaian.