Jaringan jamur bawah tanah yang membentang di seluruh penjuru bumi terancam mengalami kerusakan parah akibat aktivitas manusia dalam dua abad terakhir. Berdasarkan analisis Kabayan News, struktur biologis kuno yang berfungsi menjaga kestabilan ekosistem ini kini berada di ambang kehancuran karena alih fungsi lahan yang masif.
Mengutip laporan terbaru dari Society for the Protection of Underground Networks, benang-benang mikroskopis yang dikenal sebagai arbuscular mycorrhizal atau AM fungi ini memiliki panjang total mencapai 110 kuadriliun kilometer. Jaringan tersebut diperkirakan mampu menyimpan sekitar 300 megaton karbon di dalam tanah demi mengatur iklim global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut penjelasan Dr Justin Stewart selaku peneliti utama dari SPUN, keberadaan organisme tersebut memegang peranan krusial bagi sekitar 70 persen spesies tumbuhan di bumi. "Sangat sulit untuk melebih-lebihkan pentingnya dan masifnya ukuran jamur ini," ujarnya terkait jaringan yang mampu menyuplai air serta nutrisi bagi tanaman.
Kendati memiliki peran vital, padang rumput liar yang menjadi habitat utama bagi sekitar 40 persen jaringan jamur ini justru mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dibanding penggundulan hutan. Sebagaimana diungkapkan dalam pengamatan para ahli, teknik pembajakan tanah serta penggunaan pupuk kimia secara berlebihan merusak benang-benang halus tersebut.
Profesor Toby Kiers selaku Direktur Eksekutif SPUN menegaskan bahwa keberadaan jamur selama ini kerap diabaikan dalam peta jalan konservasi lingkungan global. "Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengubah arah kebijakan tersebut," ungkapnya menyusul peluncuran peta infrastruktur mikoriza guna mendesak perlindungan tanah.