Perguruan tinggi di China menjadi pusat inovasi teknologi kritis yang kini meninggalkan universitas di Amerika Serikat berdasarkan studi terbaru National Bureau of Economic Research. Penelitian mencatat universitas China menyumbang lebih dari seperempat paten di bidang krusial seperti kecerdasan buatan, teknologi antariksa, hingga komputasi tingkat lanjut. Angka tersebut jauh melampaui tingkat universitas Amerika Serikat yang berada di kisaran tiga persen.
Berdasarkan analisis Kabayan News, pergeseran tren riset global menunjukkan kampus-kampus di Negeri Tirai Bambu tidak lagi sekadar mengejar kuantitas melainkan kualitas paten yang semakin disruptif. Lonjakan kualitas riset tersebut terlihat dari persentase bahasa teknis disruptif pada paten China yang meroket dari bawah dua persen pada era sembilan puluhan menjadi enam belas persen menjelang tahun dua ribu dua puluh dua, mendekati posisi Amerika Serikat di angka dua puluh persen.
"Kami menemukan inovasi China di sektor teknologi kritis jauh lebih beragam dan tersebar luas, dengan keterlibatan universitas yang sangat menonjol dibandingkan belahan dunia lain," ujar peneliti Harvard Business School Josh Lerner sebagaimana dilaporkan Fortune.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerubahan peta kekuatan riset global juga tercermin pada pemeringkatan Nature Index Research Leaders di mana Harvard kehilangan posisi puncak untuk pertama kalinya. Peringkat pertama kini diduduki oleh Zhejiang University yang merupakan almamater pendiri DeepSeek, sementara sembilan dari sepuluh institusi akademik top global saat ini berasal dari China.
Kendati demikian, analis China dari Eurasia Group Dan Wang menilai angka paten tinggi belum sepenuhnya mencerminkan kepemimpinan teknologi secara keseluruhan. Pengamatan Kabayan News menunjukkan sistem inovasi kampus China masih sangat dipengaruhi oleh mandat administratif pemerintah yang membatasi ruang riset murni berbasis inisiatif mandiri.
Di sisi lain, pemotongan anggaran riset federal di Amerika Serikat oleh pemerintahan Donald Trump memicu kekhawatiran serius di kalangan akademisi. Pembekuan dana hibah senilai miliaran dolar dikhawatirkan menggerus daya saing jangka panjang Amerika Serikat dalam menghadapi gelombang inovasi China yang terus melaju kencang.