Sebagaimana diwartakan oleh media Estadão, seorang influencer sayap kanan asal Inggris bernama Milo Yiannopoulos mendadak menjadi sorotan setelah mengeluhkan perlakuan kasar yang diterimanya dari pihak berwenang Amerika Serikat.
Dalam wawancaranya di program televisi Piers Morgan Uncensored, Milo mengaku baru menyadari sisi gelap dan institusionalisasi kekerasan fisik di Amerika setelah dirinya ditangkap dan dideportasi oleh Servicio de Inmigración y Fiscalización Aduanera dos Estados Unidos (ICE).
"Saya sungguh tidak mengerti realitas fisik mengenai betapa terlembaganya kebrutalan di Amerika," ungkap Milo menyesalkan kejadian yang menimpanya usai sebelumnya sempat menjadi pendukung garis keras kebijakan deportasi massal yang diusung oleh Donald Trump.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, ia menceritakan betapa mengerikannya prosedur penahanan yang ia alami, mulai dari penggunaan borgol kaki dan tangan yang dirantai secara ketat hingga proses pemindahan antar-pusat detensi tanpa informasi yang jelas.
Berdasarkan laporan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), penahanan tersebut dilakukan karena Milo dianggap melanggar batas waktu izin tinggal setelah masuk secara sah pada tahun 2019, meski sang influencer berkilah bahwa dirinya tidak pernah menerima surat panggilan sidang resmi dari pengadilan imigrasi.