Berdasarkan laporan yang dilansir dari media internasional, provokator sayap kanan asal Inggris, Milo Yiannopoulos, baru-baru ini ditangkap oleh ICE di Louisiana dan dideportasi dari Amerika Serikat.
Kejadian ini menandai akhir dari perjalanan panjang seorang tokoh media yang dulunya membantu mempopulerkan gelombang populis sayap kanan yang mengantarkan Donald Trump ke Gedung Putih pada tahun 2016.
Mengutip ulasan kolumnis Moira Donegan di The Guardian, Yiannopoulos dulunya merupakan pionir strategi media berbasis kontroversi daring sebelum posisinya tergeser oleh gelombang influencer baru yang bermunculan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSeiring berjalannya waktu, Yiannopoulos semakin terpinggirkan akibat berbagai kontroversi masa lalu, hingga akhirnya penangkapan dan deportasi dirinya diklaim sebagai bentuk kemenangan oleh sesama figur ekstrem kanan.
Beberapa influencer sayap kanan seperti Laura Loomer, Raheem Kassam, dan Benny Johnson secara terbuka mengeklaim berada di balik rencana penyingkiran Yiannopoulos oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar runtuhnya seorang figur kontroversial, melainkan cerminan dari perpecahan internal yang lebih besar di dalam tubuh gerakan politik Maga yang mulai saling serang.
"Deportasi ini menunjukkan adanya ketegangan serius di dalam lingkaran pendukung Trump, di mana faksi-faksi radikal saling menjatuhkan demi mempertahankan pengaruh politik," tulis laporan tersebut.
Meskipun pertikaian antar-tokoh ini sering kali memunculkan ironi tersendiri bagi pihak luar, para pengamat menilai penggunaan aparat penegak hukum untuk urusan perselisihan internet menyisakan keprihatinan mendalam.