Panggung geopolitik internasional kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim kontroversial yang menyebut Selat Hormuz sebagai bagian dari teritorial negaranya. Pernyataan mengejutkan tersebut disampaikan di hadapan para pendukungnya dalam sebuah rapat umum politik.
Berdasarkan laporan media, manuver provokatif ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh sang mantan presiden. Sebelumnya, ia kerap memamerkan peta wilayah di platform media sosial untuk menegaskan klaim sepihak atas perairan penting di Timur Tengah tersebut.
Bahkan, sebagaimana diwartakan oleh Sputnik, Trump pernah sesumbar mengenai rencana untuk mendeklarasikan Selat Hormuz secara resmi sebagai wilayah Amerika Serikat setelah berhasil menundukkan Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTingkah laku kontroversial ini sontak memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional. Salah satu tanggapan tajam datang dari Rusia melalui Wakil Tetap untuk PBB, Vassily Nebenzia, yang secara terbuka menyatakan kebingungannya terhadap logika di balik klaim tersebut.
Mengutip keterangan dari kantor berita RIA Novosti, Nebenzia mempertanyakan bagaimana rencana ambisius tersebut dapat diwujudkan tanpa melanggar aturan serta hukum internasional yang berlaku.