Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Klaim Kontroversial Donald Trump...
INTERNASIONAL

Klaim Kontroversial Donald Trump atas Selat Hormuz Dicurigai Rusia

By Dewi Lestari 1 min read 22 Agustus 2026
Klaim sepihak Donald Trump atas Selat Hormuz menuai tanda tanya besar dari Rusia terkait hukum internasional

Klaim sepihak Donald Trump atas Selat Hormuz menuai tanda tanya besar dari Rusia terkait hukum internasional

Panggung geopolitik internasional kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim kontroversial yang menyebut Selat Hormuz sebagai bagian dari teritorial negaranya. Pernyataan mengejutkan tersebut disampaikan di hadapan para pendukungnya dalam sebuah rapat umum politik.

Berdasarkan laporan media, manuver provokatif ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh sang mantan presiden. Sebelumnya, ia kerap memamerkan peta wilayah di platform media sosial untuk menegaskan klaim sepihak atas perairan penting di Timur Tengah tersebut.

Bahkan, sebagaimana diwartakan oleh Sputnik, Trump pernah sesumbar mengenai rencana untuk mendeklarasikan Selat Hormuz secara resmi sebagai wilayah Amerika Serikat setelah berhasil menundukkan Iran.

Tingkah laku kontroversial ini sontak memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional. Salah satu tanggapan tajam datang dari Rusia melalui Wakil Tetap untuk PBB, Vassily Nebenzia, yang secara terbuka menyatakan kebingungannya terhadap logika di balik klaim tersebut.

Mengutip keterangan dari kantor berita RIA Novosti, Nebenzia mempertanyakan bagaimana rencana ambisius tersebut dapat diwujudkan tanpa melanggar aturan serta hukum internasional yang berlaku.

Topics
donald trump selat hormuz rusia vassily nebenzia amerika serikat geopolitik
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.