Pendidikan tinggi Amerika Serikat menghadapi tantangan serius menyusul penurunan standar intelektual dan hilangnya objektivitas di kalangan akademisi humaniora. Selama 30 tahun terakhir sejak parodi Sokal tahun 1996, perguruan tinggi dinilai gagal mengatasi degradasi akademik yang terjadi akibat pengabaian rigor ilmiah demi agenda politik tertentu.
"Parodi yang saya buat di Social Text membuktikan bahwa jurnal budaya terkemuka bersedia menerbitkan omong kosong asal sesuai dengan prasangka ideologis mereka," ujar fisikawan New York University Alan Sokal mengkritik penurunan standar tersebut.
Laporan terbaru yang dirilis oleh komite sarjana atas penugasan kanselir dari Vanderbilt University dan Washington University memperkuat temuan serupa. Laporan tersebut mengidentifikasi berbagai patologi di mana kalangan akademisi memandang riset semata-mata sebagai sarana politik dengan menolak objektivitas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeReaksi keras dari para profesor humaniora terhadap laporan tersebut justru dinilai semakin mengonfirmasi kelemahan cara berpikir di bidang disiplin ilmu mereka. Sejumlah akademisi bahkan secara terbuka menyatakan bahwa pencarian kebenaran bukanlah inti dari nilai akademik mereka.
Ancaman Politisasi Riset Pendidikan Tinggi
Komite sarjana pimpinan Paul Boghossian memperingatkan bahwa situasi ini menghadirkan dilema besar bagi administrator universitas ketika keahlian disiplin ilmu mulai kehilangan kepercayaan. Ketika astronomi berubah menjadi astrologi, penentu kebijakan menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menilai kualitas riset.
"Nilai inti akademik antropologi bukanlah mengejar kebenaran karena semua kebenaran bersifat subjektif," tulis profesor antropologi University of Colorado Boulder Fernando Villanea dalam artikel tahun 2023 yang disorot dalam laporan tersebut.
Pernyataan tersebut dikritik karena mengandung kontradiksi internal yang menolak objektivitas kebenaran tetapi di saat yang sama mengklaim realitas objektif atas penderitaan kelompok tertentu. Polemik ini menegaskan perlunya evaluasi mendalam terhadap arah perkembangan ilmu humaniora di perguruan tinggi modern.
Langkah perbaikan mendesak diperlukan agar lembaga pendidikan tinggi dapat kembali menjalankan misi utamanya dalam membina nalar kritis dan pemahaman mendalam tanpa terjebak dalam bias politik.