Pengakuan fisikawan AS Philip Morrison membuka tabir baru mengenai keputusan historis di balik penjatuhan bom atom di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 silam. Berdasarkan arsip wawancara yang dilansir dari BBC, ilmuwan yang terlibat dalam Manhattan Project tersebut menjelaskan bahwa momentum besar perang membuat proyek pemusnahan massal itu tidak mungkin dihentikan.
Philip Morrison memainkan peran sentral dalam pengembangan senjata nuklir di laboratorium Los Alamos di bawah pimpinan J Robert Oppenheimer. Pengamat Kabayan News mencatat bahwa keterlibatan fisikawan tersebut dimulai dari pengawalan inti plutonium hingga mengawasi langsung persiapan akhir bom "Fat Man" di pulau Tinian sebelum diangkut menggunakan pesawat B-29.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam keterangannya kepada media masa lalu, Morrison menyatakan bahwa keputusan menggunakan senjata pemusnah tersebut didasari oleh kekhawatiran kemanusiaan terhadap pertempuran masif di kawasan Pasifik. Menurut pengamat Kabayan News, dinamika militer saat itu berada dalam kendali momentum yang bergerak sangat cepat tanpa ruang negosiasi bagi para ilmuwan.
Lebih lanjut, Morrison menilai bahwa satu-satunya figur yang memiliki kekuatan politik untuk membelokkan arah sejarah tersebut adalah Presiden Franklin D Roosevelt yang wafat pada April 1945. Penggantinya, Harry S Truman, diwarisi situasi yang membuat keputusan pengeboman seolah berjalan otomatis mengikuti rencana militer yang telah tersusun rapat.
Setelah tragedi kemanusiaan tersebut, Philip Morrison bertransformasi menjadi salah satu tokoh penentang proliferasi nuklir global dan aktif mengampanyekan perdamaian. Berdasarkan catatan sejarah, ia kemudian mendedikasikan hidupnya sebagai profesor di Massachusetts Institute of Technology untuk memastikan kengerian perang nuklir tidak pernah terulang kembali.