Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Perdana Menteri Inggris Dilaporkan...
INTERNASIONAL

Perdana Menteri Inggris Dilaporkan Bertukar Pesan dengan Penipu yang Menyamar sebagai Pejabat Gedung Putih

By Dewi Lestari 3 min read 18 Agustus 2026
Gedung Putih dan kantor pemerintahan Inggris menjadi sorotan atas insiden penyamaran pejabat tinggi

Gedung Putih dan kantor pemerintahan Inggris menjadi sorotan atas insiden penyamaran pejabat tinggi

PM Inggris Tertipu Bertukar Pesan dengan Penaruh Penyamar Pejabat AS

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dikabarkan tidak sengaja bertukar pesan dengan seorang oknum yang mengaku sebagai kepala staf Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Laporan mengenai insiden ini pertama kali dipublikasikan pada hari Senin setelah mencuat ke publik.

Juru bicara resmi bagi Perdana Menteri Burnham secara tegas menolak untuk memberikan tanggapan lebih lanjut terkait laporan tersebut. Pihak kantor perdana Menteri menyatakan bahwa sudah menjadi kebijakan internal untuk tidak membahas masalah yang berkaitan dengan keamanan nasional.

Media Politico melaporkan berdasarkan keterangan dari empat pejabat anonim bahwa Burnham sempat mengira sedang berkomunikasi secara langsung dengan Susie Wiles sebelum akhirnya merasa curiga. Setelah menyadari kejanggalan tersebut, ia langsung memutuskan segala bentuk komunikasi dengan pihak penipu.

Pihak Gedung Putih memastikan bahwa insiden penyusupan komunikasi ini sama sekali tidak berkaitan dengan adanya peretasan pada perangkat pribadi milik Susie Wiles. Penyelidikan lanjutan terus dilakukan untuk mengungkap modus operandi di balik penyamaran tersebut.

Latar Belakang Kasus Penyamaran Pejabat

Sebelum insiden yang menimpa perdana menteri Inggris ini, pemerintah Amerika Serikat telah menyelidiki serangkaian pesan serupa tahun lalu. Saat itu, sejumlah pejabat tinggi, eksekutif bisnis, dan tokoh terkemuka di AS menerima pesan dari seseorang yang mengaku sebagai Susie Wiles.

Tidak lama setelah rangkaian insiden tersebut terungkap, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan resmi kepada para diplomat. Peringatan tersebut menyoroti adanya upaya penyamaran yang mencatut nama Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta pejabat tinggi lainnya.

Modus operandi para pelaku kejahatan siber tersebut disinyalir memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan untuk melancarkan aksi penipuan. Upaya penyamaran tersebut sebelumnya juga menyasar setidaknya tiga menteri luar negeri asing, seorang senator AS, serta seorang gubernur.

Biro Investigasi Federal (FBI) telah lama mengeluarkan peringatan publik mengenai ancaman aktor berbahaya yang menyalahgunakan teknologi kecerdasan buatan. Teknologi ini kerap disalahgunakan untuk meniru identitas pejabat senior pemerintah Amerika Serikat demi kepentingan tertentu.

Dinamika Politik dan Hubungan Bilateral

Perdana Menteri Andy Burnham sendiri diketahui baru menjabat sebagai kepala pemerintahan Inggris kurang dari satu bulan. Selama masa jabatannya yang masih singkat ini, ia berupaya keras untuk merajut hubungan diplomatik yang baik dengan pihak Gedung Putih.

Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menunjukkan kehangatan dalam hubungan diplomatik dengan pendahulu Burnham, yaitu Keir Starmer. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan antara kedua pemimpin tersebut sempat mengalami pasang surut dan merenggang.

Upaya pendekatan diplomatik yang intensif terus dilakukan oleh pemerintahan baru Inggris guna menjaga stabilitas aliansi strategis di kancah internasional. Kerjasama bilateral tetap menjadi prioritas utama di tengah berbagai tantangan keamanan global yang kompleks.

Berdasarkan laporan media setempat, insiden komunikasi dengan pihak penyamar ini mencatat bahwa Burnham sempat bertukar pesan sebelum akhirnya memutus kontak. Otoritas terkait masih memantau perkembangan situasi untuk mengantisipasi potensi ancaman keamanan digital ke depan.

Topics
politik internasional keamanan nasional inggris amerika serikat
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.