Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Permukaan Air Lake Powell Anjlok ke...
INTERNASIONAL

Permukaan Air Lake Powell Anjlok ke Titik Terendah Sejarah

By Dewi Lestari 2 min read 17 Agustus 2026
Permukaan air Lake Powell yang menyusut akibat kekeringan parah

Permukaan air Lake Powell yang menyusut akibat kekeringan parah

Permukaan air Lake Powell di perbatasan Utah-Arizona merosot hingga mencapai 3.519,91 kaki di atas permukaan laut pada 15 Agustus 2026, yang merupakan titik terendah sepanjang sejarah waduk tersebut.

Berdasarkan sistem pengukur otomatis Bureau of Reclamation, rekor terendah sebelumnya tercatat pada angka 3.519,92 kaki di bulan April 2023.

Penurunan permukaan air di bawah 3.490 kaki berpotensi mengancam kapasitas pembangkit listrik tenaga air waduk dan memicu pemangkasan drastis pasokan air bagi jutaan warga serta lahan pertanian seluas ratusan mil.

Para klimatolog dan ahli pengairan menyatakan kekeringan berkepanjangan ini diperparah oleh perubahan iklim yang mengubah curah salju di Pegunungan Rocky menuju aliran Sungai Colorado.

Ancaman Krisis Air dan Krisis Listrik di AS

Sistem waduk Lake Powell dan Lake Mead dirancang untuk menyimpan air pada tahun-tahun basah serta melepaskannya saat musim kering bagi tujuh negara bagian di Amerika Serikat.

Peningkatan populasi pesat di kawasan Barat Amerika Serikat turut menaikkan permintaan air di tengah tren penurunan curah salju tahunan.

Sejumlah usulan solusi mulai dari pembatasan irigasi rumput hingga pembangunan pabrik desalinasi bertenaga nuklir diajukan guna menghadapi ancaman krisis air jangka panjang.

Pemerintah federal merilis rencana baru untuk mengurangi volume air keluar dari sistem waduk guna menekan dampak kekeringan yang diperkirakan berlanjut hingga musim semi mendatang.

Topics
lake powell waduk kekeringan perubahan iklim colorado river amerika serikat krisis air lingkungan
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.