Kandungan kimia PFAS ditemukan dalam air sumur milik warga di Tiverton, Rhode Island, dengan tingkat konsentrasi mencapai 20 kali lipat di atas batas legal yang ditetapkan negara bagian. Temuan ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai risiko kesehatan bagi warga setempat yang telah mengonsumsi air tersebut selama bertahun-tahun.
PFAS dikenal sebagai "forever chemicals" karena sifatnya sulit terurai di lingkungan dalam waktu singkat. Bahan kimia sintetis ini kerap digunakan dalam berbagai produk tahan air, minyak, serta panas, yang seiring berjalannya waktu dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air tanah.
William Bowley, seorang warga Tiverton berusia 70 tahun, mengungkapkan kecemasan besarnya setelah mengetahui potensi paparan yang mungkin telah dialaminya selama 23 tahun terakhir. Ia kini merasa khawatir dengan kondisi kesehatan anak serta cucunya yang juga mengonsumsi air dari sumber serupa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Masalah terbesar adalah ketidakpastian. Saya tidak tahu pasti seberapa lama kami terpapar zat ini," ujar Bowley sebagaimana dilaporkan media setempat.
Respons Otoritas dan Langkah Mitigasi Warga
Pakar kesehatan memperingatkan bahwa paparan PFAS dalam jangka panjang berisiko tinggi memicu berbagai penyakit serius. Beberapa masalah kesehatan meliputi risiko kanker, gangguan tiroid, kerusakan hati, hingga masalah sistem imun serta perkembangan tubuh.
Pencemaran pada sumur pribadi sering kali tidak terdeteksi dalam waktu lama karena kurangnya pengawasan rutin dibanding sistem air publik. Hal ini membuat warga baru menyadari bahaya tersebut setelah melakukan pengujian mandiri di tengah kekhawatiran akan dampak lingkungan yang berkelanjutan.
Masyarakat Tiverton saat ini menuntut langkah lebih cepat dari Departemen Pengelolaan Lingkungan atau Department of Environmental Management (DEM) terkait penanganan pencemaran air ini. Banyak warga merasa kecewa dengan keterlambatan penerimaan hasil tes laboratorium yang krusial bagi keselamatan mereka.
Juru bicara DEM, Kim Keough, menyatakan dalam keterangan resmi bahwa penanganan kasus pencemaran ini menjadi prioritas utama pihak dinas terkait. Namun, warga seperti Trisha MacGowan mengaku kesulitan menerima kenyataan dan merasa proses penyelesaian masih sangat lambat.
Sebagai langkah pencegahan jangka pendek, pihak berwenang menyarankan rumah tangga dengan sumur pribadi untuk beralih menggunakan air minum dalam kemasan. Langkah ini disarankan selama proses pengujian lanjutan serta upaya dekontaminasi sumber air masih berlangsung.
Situasi di Tiverton kini memicu diskusi luas mengenai pentingnya pengujian berkala pada sumber air tanah pribadi. Selain ancaman kesehatan, warga juga dihadapkan pada pertanyaan sulit terkait penurunan nilai properti serta biaya pembersihan lingkungan yang harus ditanggung secara mandiri.