Produksi minyak di Pulau Kharg tetap berjalan normal meskipun fasilitas strategis tersebut menghadapi serangan beruntun dari pasukan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama National Iranian Oil Company pada Senin, 31 Agustus 2026, guna menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut fasilitas itu hancur total.
Pejabat tinggi perminyakan Iran tersebut menilai klaim kepemimpinan Washington sebagai hal yang tidak masuk akal. Ia memastikan para kontraktor saat ini sedang aktif memperbaiki infrastruktur yang rusak di lapangan demi menjaga kelangsungan operasional sektor energi nasional.
Proses restorasi dan renovasi tangki penyimpanan minyak terus berlanjut tanpa ada penghentian kegiatan sama sekali di Pulau Kharg. Beberapa proyek perbaikan tercatat sudah mencapai progres pengerjaan sekitar 20 persen hingga 30 persen di tengah situasi keamanan yang memanas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonflik kian membara setelah pasukan AS meluncurkan serangan udara terhadap dua peluncur rudal milik Iran di Pulau Larak pada Minggu. Operasi militer tersebut menandai eskalasi baru dalam ketegangan jangka panjang antara Washington dan Teheran sejak akhir Juli lalu.
Balasan Militer Iran dan Eskalasi Kawasan
Korps Garda Revolusi Islam Iran langsung melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Uni Emirat Arab dan Yordania. Langkah militer tersebut dilaporkan oleh media resmi pemerintah Iran sebagai bentuk respons atas agresi yang terjadi di wilayah teritorial mereka.
Saling serang antara kedua belah pihak menegaskan tingginya volatilitas keamanan di kawasan Timur Tengah di tengah mandeknya upaya diplomasi untuk mencapai gencatan senjata. Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia akibat eskalasi konflik militer yang melibatkan kekuatan besar.
Pemerintah Iran berkomitmen untuk terus mengamankan fasilitas-fasilitas vital energi meskipun menghadapi ancaman intervensi militer asing secara masif. Perbaikan infrastruktur yang rusak dikebut agar distribusi minyak tidak mengalami hambatan berarti di pasar internasional.
Perkembangan situasi di Pulau Kharg dan Pulau Larak terus dipantau oleh para pengamat internasional menyusul risiko pelebaran konflik regional. Berbagai pihak berharap jalur diplomasi segera dibuka kembali guna meredam ketegangan bersenjata yang berpotensi merusak perekonomian global.