Profil Hassan Khomeini menarik perhatian publik internasional setelah namanya masuk dalam bursa kandidat potensial Pemimpin Tertinggi Iran dalam suksesi kepemimpinan menyusul dinamika politik negara tersebut.
Lahir pada 23 Juli 1972, Hassan Khomeini merupakan cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin pertama sekaligus pendiri Republik Islam Iran. Sejak tahun 1995, ia dipercaya mengemban amanah sebagai penjaga Mausoleum Khomeini di Teheran tempat peristirahatan terakhir kakek dan ayahnya, Ahmad Khomeini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam peta politik Iran, pandangan politik Hassan Khomeini kerap dinilai kontras dengan kaum garis keras atau principalist. Ia dikenal memiliki kecenderungan moderat dan reformis, yang membuatnya beberapa kali bersinggungan dengan lembaga keagamaan mapan seperti Dewan Garda Konstitusi.
Sepak terjang politiknya diwarnai berbagai dinamika, termasuk ketika pencalonannya dalam pemilu Majelis Ahli pada tahun 2016 ditolak oleh Dewan Garda. Selain itu, ia juga pernah menjadi sorotan publik atas kritik-kritiknya terhadap intervensi militer serta kebijakan rezim yang didominasi kelompok fundamentalis.
Berdasarkan analisis pengamat politik internasional, latar belakang keluarga serta posisinya dalam lingkaran ulama membuat Hassan Khomeini tetap diperhitungkan sebagai figur penting. Meskipun kursi Pemimpin Tertinggi akhirnya diisi oleh Mojtaba Khamenei, dinamika seputar figur reformis ini terus menjadi bahan kajian menarik bagi pengamat global.