Masoud Pezeshkian resmi mencatatkan sejarah politik modern Iran setelah terpilih sebagai Presiden Iran kesembilan melalui kemenangan pada pemilihan presiden tahun 2024. Berdasarkan catatan biografi, pria kelahiran Mahabad ini memegang rekor sebagai figur tertua menjabat posisi tertinggi di negeri para Mullah tersebut pada usia 69 tahun. Latar belakangnya sebagai seorang dokter bedah jantung profesional sekaligus politikus berhaluan moderat reformis memberikan warna tersendiri dalam peta perpolitikan domestik maupun diplomasi internasional Iran.
Perjalanan hidup Pezeshkian dimulai di wilayah West Azerbaijan dari keluarga berdarah campuran Azeri dan Kurdi. Semasa muda, ia menempuh pendidikan kedokteran di Tabriz University of Medical Sciences dan mengabdikan diri merawat para tentara garis depan selama berkecamuknya Perang Iran-Irak. Pengabdian medis tersebut berlanjut hingga ia meraih gelar spesialis bedah jantung serta memimpin almamaternya sebagai rektor universitas pada dekade sembilan puluhan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKarier politik formal Pezeshkian mulai menanjak ketika ia bergabung dalam pemerintahan Mohammad Khatami sebagai Wakil Menteri Kesehatan menjelang akhir tahun sembilan puluhan. Posisinya semakin strategis tatkala ia dipercaya memegang kursi Menteri Kesehatan dan Pendidikan Medis dari tahun 2001 hingga 2005. Pengamatan tim redaksi menunjukkan ketangguhan politiknya teruji ketika ia berhasil melewati mosi pemakzulan di parlemen secara mulus sebelum akhirnya melenggang menjadi anggota parlemen mewakili Tabriz selama lima periode berturut-turut.
Berdasarkan analisis awak media, kemenangan Pezeshkian dalam pemilihan presiden 2024 merefleksikan kerinduan sebagian masyarakat Iran terhadap figur yang mampu membuka ruang dialog konstruktif dengan dunia internasional. Di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang memanas, kepemimpinannya dihadapkan pada tantangan besar mulai dari pemulihan ekonomi akibat sanksi global hingga pengelolaan hubungan strategis dengan kekuatan barat terkait program nuklir.