Revolusi Iran 1979 mencatatkan sejarah besar dunia setelah berhasil menumbangkan kekuasaan Dinasti Pahlavi secara total. Peristiwa monumental tersebut mengubah sistem pemerintahan Imperial State of Iran menjadi Islamic Republic of Iran, menggantikan kekuasaan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi dengan kepemimpinan seorang ulama Islam, Ruhollah Khomeini, sebagai pemimpin tertinggi.
Berdasarkan analisis awak media, akar perlawanan ini tertanam kuat sejak dekade-dekade sebelumnya, termasuk kudeta dukungan CIA dan MI6 pada tahun 1953 yang menumbangkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Kembalinya Shah ke tampuk kekuasaan dengan sokongan kekuatan Barat memicu ketidakpuasan mendalam di berbagai lapisan masyarakat Iran akibat modernisasi kilat dan pengaruh asing yang masif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSituasi semakin memanas ketika Shah meluncurkan program reformasi kontroversial yang mengasingkan kaum agamawan dan masyarakat luas. Protes massal pecah sepanjang tahun 1978, diperparah oleh tragedi kebakaran Cinema Rex yang menewaskan ratusan jiwa dan memicu kemarahan publik terhadap rezim berkuasa.
Puncak pergolakan terjadi pada Januari 1979 ketika Shah Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran untuk selamanya. Kepulangan Khomeini disambut jutaan rakyat di Tehran, yang kemudian diikuti runtuhnya sisa-sisa kekuatan monarki serta kemenangan mutlak referendum pembentukan republik Islam.
Menurut pengamatan tim redaksi, keberhasilan Revolusi Iran tergolong unik karena terjadi tanpa pemicu klasik seperti kekalahan perang krisis finansial masif atau pemberontakan kaum tani. Transformasi radikal ini berhasil merombak peta kekuatan politik Timur Tengah sekaligus menciptakan babak baru hubungan antara dunia Islam dan kekuatan Barat.