Sejarah Lengkap Great Depression Krisis Ekonomi Global
Great Depression atau Depresi Besar adalah penurunan ekonomi global yang parah dan terjadi dari tahun 1929 hingga 1939. Periode ini dicirikan oleh tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, penurunan drastis dalam produksi industri serta perdagangan internasional, dan kegagalan bank serta bisnis secara meluas di seluruh dunia. Penularan ekonomi ini bermula pada tahun 1929 di Amerika Serikat, ekonomi terbesar di dunia, dengan kehancuran Wall Street tahun 1929 yang sering dianggap sebagai awal dari depresi tersebut. Di antara negara-negara dengan jumlah pengangguran terbanyak adalah Amerika Serikat, Britania Raya, dan Jerman.
Sebelum depresi terjadi, terdapat periode pertumbuhan industri dan pembangunan sosial yang dikenal sebagai "Roaring Twenties". Sebagian besar keuntungan yang dihasilkan dari masa keemasan tersebut diinvestasikan dalam spekulasi, seperti di pasar saham, yang berkontribusi pada ketimpangan kekayaan yang semakin besar. Bank-bank saat itu tunduk pada regulasi minimal, yang menghasilkan pinjaman longgar dan utang yang merajalela. Pada tahun 1929, penurunan pengeluaran telah menyebabkan berkurangnya hasil manufaktur dan meningkatnya pengangguran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAntara tahun 1929 dan 1932, produk domestik bruto (PDB) dunia diperkirakan turun sebesar 15 persen, sementara di Amerika Serikat depresi ini mengakibatkan kontraksi PDB sebesar 30 persen. Pemulihan bervariasi secara drastis di seluruh dunia, di mana beberapa ekonomi mulai pulih pada pertengahan tahun 1930-an sementara yang lain membutuhkan waktu lebih lama. Depresi ini memberikan dampak ekonomi yang menghancurkan bagi negara kaya maupun miskin melalui penurunan pendapatan pribadi, harga, pendapatan pajak, dan keuntungan.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh masing-masing negara untuk menopang ekonomi melalui kebijakan proteksionis justru memicu keruntuhan dalam perdagangan global. Perdebatan mengenai penyebab pasti dari Depresi Besar masih berlanjut di kalangan sejarawan dan ekonom, mencakup faktor non-moneter hingga kegagalan kebijakan moneter. Krisis mendalam ini akhirnya baru benar-benar berakhir dengan pecahnya Perang Dunia II pada tahun 1939 yang menstimulasi produksi pabrik dan menyerap pengangguran secara besar-besaran.
Latar Belakang dan Kejatuhan Wall Street
Depresi Besar didahului oleh periode kemakmuran yang signifikan di Amerika Serikat dan Eropa Barat menyusul Perang Dunia I melalui era "Roaring Twenties". Tahun 1929 awalnya dimulai dengan prospek ekonomi yang cukup baik meskipun pasar sempat mengalami gejolak dan penurunan di akhir musim panas. Harga saham mulai merosot pada bulan September dan memicu aksi jual besar-besaran di pertengahan bulan Oktober. Ketidakstabilan ini memuncak pada akhir Oktober dalam peristiwa panik pasar yang dikenal luas.
Peristiwa penentu kejatuhan dimulai pada 24 Oktober 1924 yang dikenal sebagai Black Thursday, di mana pasar saham Amerika Serikat jatuh 11 persen pada pembukaan perdagangan. Upaya untuk menstabilkan pasar gagal dilakukan, sehingga pada 28 Oktober atau Black Monday pasar kembali anjlok 12 persen. Kepanikan mencapai puncaknya keesokan harinya pada Black Tuesday dengan penurunan lanjutan sebesar 11 persen. Ribuan investor mengalami kebangkrutan dan miliaran dolar lenyap dalam waktu singkat akibat saham yang tidak lagi bernilai.
Meskipun pasar sempat mengalami periode pemulihan sementara pada akhir tahun 1929 hingga awal 1930, situasi umum tetap berada dalam kelesuan yang berkepanjangan. Dari September 1929 hingga Juli 1932, pasar saham secara keseluruhan kehilangan sebagian besar nilainya dan memicu hilangnya kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Konsumen dan dunia usaha memangkas pengeluaran secara drastis sebagai respons atas kerugian parah yang diderita tahun sebelumnya.
Krisis kembali mencapai tingkat kepanikan pada Desember 1930 dengan terjadinya penarikan dana massal atau bank run pada Bank of United States. Kegagalan lembaga perbankan tersebut menyebabkan penutupan ratusan bank lainnya di seluruh Amerika Serikat dan memicu krisis likuiditas yang melumpuhkan perekonomian nasional. Kegagalan dalam membendung runtuhnya sistem perbankan ini menjadi katalisator utama yang mengubah kemerosotan pasar saham menjadi depresi ekonomi berkepanjangan.
Dampak Global dan Pemberlakuan Proteksionisme
Penurunan ekonomi di Amerika Serikat dengan cepat memicu penurunan ekonomi di sebagian besar negara lain akibat penurunan perdagangan, pergerakan modal, dan kepercayaan bisnis global. Kerentanan internal di masing-masing negara turut memperburuk atau meringankan kondisi yang ada, seperti yang terlihat pada perbedaan tingkat keparahan di Britania Raya dan Jerman. Negara-negara yang mampu mendevaluasi mata uang mereka lebih awal umumnya pulih lebih cepat dibandingkan negara yang tetap bertahan pada standar emas.
Sebagai respons awal terhadap krisis, Kongres Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley pada 17 Juni 1930 untuk melindungi ekonomi domestik dari persaingan asing. Namun, konsensus di antara para ekonom dan sejarawan menunjukkan bahwa undang-undang tersebut justru memperburuk Depresi Besar. Tarif impor yang sangat tinggi memicu tindakan pembalasan dari negara-negara lain dan menyebabkan kolapsnya volume perdagangan internasional.
Perdagangan global mengalami pukulan telak setelah tahun 1930 akibat penerapan tarif tinggi, kuota impor, dan kontrol pertukaran mata uang oleh berbagai pemerintahan di seluruh dunia. Nilai ekspor Amerika Serikat mengalami penurunan drastis dalam kurun waktu empat tahun setelah pemberlakuan kebijakan proteksionis tersebut. Komoditas pertanian seperti gandum, kapas, tembakau, dan kayu menjadi sektor yang paling parah merasakan dampak dari menyusutnya pasar ekspor internasional.
Dampak sosial dari depresi ini sangat luas, merusak komunitas pedesaan dan perkotaan yang bergantung pada industri berat maupun sektor primer. Petani menghadapi hantaman ganda berupa kejatuhan harga hasil panen dan bencana kekeringan parah di wilayah dataran Amerika Serikat. Rangkaian penderitaan ekonomi global ini baru menemukan titik balik ketika mobilisasi industri skala besar untuk Perang Dunia II pada tahun 1939 berhasil memulihkan lapangan kerja dan mengakhiri depresi.