Sengketa wilayah Jepang dengan sejumlah negara tetangga seperti China, Rusia, Korea Selatan, dan Taiwan masih menjadi isu diplomatik yang belum terselesaikan hingga kini. Berbagai klaim tumpang tindih mengenai kepemilikan pulau-pulau terpencil dan perairan strategis terus memicu perdebatan panjang di kawasan Asia.
Kepulauan Kuril yang membentang dari Hokkaido hingga Semenanjung Kamchatka menjadi salah satu titik sengketa utama antara Jepang dan Rusia sejak Perang Dunia II berakhir. Tokyo mengklaim pulau-pulau di bagian selatan sebagai Wilayah Utara, sementara Moskow tetap mempertahankan kedaulatannya berdasarkan perjanjian pascaperang.
Selain Kuril, ketegangan juga terjadi di Laut China Timur terkait Kepulauan Senkaku yang turut diklaim oleh China sebagai Kepulauan Diaoyu dan oleh Taiwan sebagai Tiaoyutai. Penemuan potensi cadangan minyak di wilayah tersebut pada akhir 1960-an semakin memperkeruh hubungan diplomatik ketiga pihak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, isu kepemilikan Liancourt Rocks atau yang dikenal sebagai Takeshima di Jepang serta Dokdo di Korea Selatan juga memicu gesekan berkepanjangan. Perebutan pengaruh historis dan hak atas zona ekonomi eksklusif di perairan sekitar pulau-pulau kecil tersebut terus dipertahankan oleh masing-masing negara.
Polemik Status Okinotorishima dan Klaim Zona Ekonomi Eksklusif
Okinotorishima merupakan atol terpencil di Laut Filipina yang juga menjadi sumber sengketa maritim antara Jepang dengan negara-negara tetangganya. Jepang mati-matian mempertahankan status atol tersebut sebagai pulau agar dapat mengklaim zona ekonomi eksklusif yang luas di sekitarnya.
Namun, klaim tersebut mendapat tentang keras dari China, Taiwan, dan Korea Selatan karena menilai Okinotorishima tidak memenuhi kriteria hukum internasional untuk mendukung kehidupan manusia. Akibatnya, wilayah perairan di sekitar atol strategis ini sering menjadi arena perebutan pengaruh ekonomi dan geopolitik.
Pemerintah Jepang bahkan telah menggelontorkan dana besar untuk memperkuat struktur atol agar tidak mengalami abrasi serta merawat terumbu karang di kawasan tersebut. Berbagai upaya perlindungan fisik ini dilakukan demi mengamankan kepentingan jangka panjang mereka di perairan internasional.
Perselisihan mengenai batas wilayah dan kepulauan ini menunjukkan betapa rumitnya diplomasi maritim di kawasan Asia Timur. Hingga saat ini, negosiasi damai terus diupayakan untuk mencari titik temu di tengah klaim sejarah yang saling bertentangan antarnegara.