Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / THAAD PAC3 missile production,...
INTERNASIONAL

THAAD PAC3 missile production, Pentagon genjot kapasitas pertahanan

By Dewi Lestari • 2 min read • 3 Agustus 2026
THAAD PAC3 missile production oleh Pentagon untuk memperkuat sistem pertahanan udara

THAAD PAC3 missile production oleh Pentagon untuk memperkuat sistem pertahanan udara

THAAD PAC3 missile production kini digenjot habis-habisan oleh Pentagon melalui kontrak industri pertahanan terbaru yang diumumkan langsung dari Washington DC.

Berdasarkan laporan resmi Departemen Pertahanan Amerika Serikat, langkah strategis ini diambil guna mengatasi lonjakan permintaan global terhadap sistem pertahanan udara yang semakin mendesak di tengah dinamika ancaman geopolitik.

"Kami terus memperkuat kapasitas industri militer untuk memastikan kesiapan operasional jangka panjang," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari otoritas pertahanan Amerika Serikat.

Dari analisis awak media, ekspansi fasilitas manufaktur ini secara langsung merespons eskalasi risiko serangan rudal balistik dan pesawat tanpa awak yang kerap mengincar wilayah-wilayah berisiko tinggi.

Sistem THAAD sendiri memiliki kapabilitas krusial dalam mencegat rudal balistik pada fase terminal penerbangan di ketinggian tinggi, sementara rudal PAC3 diintegrasikan ke dalam baterai Patriot untuk menghadapi berbagai sasaran udara.

Selain memperkuat cadangan nasional, kebijakan penandatanganan kontrak ini juga diarahkan untuk mempercepat pengiriman perangkat pertahanan kepada para mitra internasional yang telah terikat kontrak strategis.

Sejumlah pengamat militer menilai bahwa lonjakan anggaran dan peningkatan kapasitas produksi ini akan terus berlanjut seiring dengan tingginya kebutuhan pengamanan perbatasan serta stabilitas global.

Topics
thaad pac3 missile production pentagon department of defense washington pertahanan udara militer amerika serikat
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.