Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Tiga Supertanker China Putar Balik...
INTERNASIONAL

Tiga Supertanker China Putar Balik di Selat Hormuz, Ketegangan Iran Memuncak

By Dewi Lestari 2 min read 20 Agustus 2026
Tiga supertanker China putar balik di Selat Hormuz akibat ketegangan militer

Tiga supertanker China putar balik di Selat Hormuz akibat ketegangan militer

Tiga supertanker China membatalkan pelayaran dan berputar balik di Selat Hormuz menyusul risiko pelayaran tetap tinggi setelah Presiden Donald Trump mengambil sikap tegas terhadap Iran. Berdasarkan data pelacakan kapal, kapal Sea V membawa minyak mentah Irak berbalik arah di dekat pintu masuk selat, sementara kapal Hestia dan Erecter turut mengubah rute secara mendadak.

Kapal pengangkut minyak mentah sangat besar tersebut berbendera Hong Kong serta menyiarkan informasi memiliki awak kapal berkebangsaan China di atas kapal. Pengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa lalu lintas kapal komersial di jalur air strategis tersebut melambat drastis setelah laporan Angkatan Laut Inggris mencatat sebuah kapal terkena hujaman proyektil misterius.

Berdasarkan analisis Kabayan News, prospek normalisasi lalu lintas perdagangan minyak global semakin meredup akibat sikap Washington yang menegaskan ketiadaan negosiasi dengan Teheran. Perunding utama Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat mencabut blokade angkatan laut, menghapus sanksi minyak, dan menghentikan operasi militer.

Meskipun ancaman keamanan masih membayangi kawasan Timur Tengah, sejumlah kapal tetap nekat melintas secara sembunyi-sembunyi dengan mematikan transponder. Kapal Sweden Prosperity dan Singapore Prosperity terpantau berhasil melintasi perairan tersebut pada malam hari tanpa memancarkan sinyal lokasi resmi menuju titik labuh.

Topics
supertanker china selat hormuz donald trump minyak mentah timur tengah konflik iran pelayaran internasional
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.