Sebagaimana diwartakan dalam laporan Sumbarkita, Generasi Z yang dikenal akrab dengan teknologi dan kreativitas kini tengah menghadapi persoalan besar yang kerap terabaikan, yakni tekanan ekonomi serta kecemasan mendalam terhadap masa depan.
Tekanan finansial menjadi kenyataan pahit bagi banyak anak muda karena biaya hidup yang terus melonjak tidak sebanding dengan kepastian pekerjaan maupun pendapatan yang diperoleh.
Ironisnya di tengah himpitan ekonomi tersebut, budaya konsumtif justru kian mengakar melalui istilah-istilah populer seperti "self-reward", "healing", hingga "FOMO" yang dianggap sebagai pelarian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut pengamatan media, membeli makanan tren atau bepergian sering kali dijadikan jalan pintas untuk mencari kebahagiaan semu setelah lelah menghadapi kerasnya tuntutan hidup sehari-hari.
Persoalan menjadi semakin runyam ketika konsumsi diposisikan sebagai satu-satunya cara merasa bahagia atau demi menjaga citra sempurna di hadapan publik media sosial.
Berdasarkan analisis sistemik, dominasi kapitalisme menjadikan manusia tidak sekadar sebagai pekerja melainkan dipaksa menjadi konsumen abadi yang terus didorong untuk membeli demi ukuran keberhasilan.
Akibatnya muncul lingkaran setan yang melelahkan di mana anak muda bekerja keras demi penghasilan lalu menghabiskannya untuk memenuhi standar hidup yang kian tidak realistis.
Lebih jauh lagi, persoalan pelik ini bermuara pada krisis tujuan hidup yang fundamental ketika manusia mulai kehilangan arah mengenai makna hakiki eksistensi mereka di dunia.
Ketika jawaban atas identitas dan tujuan hidup kabur, ukuran kesuksesan akhirnya direduksi sebatas besaran gaji, jabatan, jumlah pengikut media sosial, hingga kepemilikan materi semata.