Berdasarkan laporan media Diario ABC, felpudo atau yang lebih dikenal sebagai keset kaki seringkali dipandang sebelah mata karena posisinya yang selalu diinjak, disapu, dan diabaikan di ambang pintu. Kendati demikian, benda sederhana ini menyimpan sejarah panjang yang membuktikan bagaimana sebuah inovasi kecil mampu mengubah cara manusia menjaga kebersihan dan tatanan rumah dari masa ke masa.
Sebagaimana diwartakan oleh kolumnis Pedro Gargantilla, kepedulian terhadap kebersihan hunian bukanlah obsesi modern semata, melainkan sudah ada sejak peradaban kuno seperti Mesopotamia dan Mesir. Dahulu, orang-orang memanfaatkan batu, jeruji besi, hingga ikatan ranting di pintu masuk guna mencegah debu dan lumpur mengotori lantai dalam rumah yang kerap menjadi masalah besar di kawasan perkotaan Eropa pada abad pertengahan.
Titik balik evolusi keset terjadi pada abad ke-19 ketika Kekaisaran Britania mulai mengimpor serat kelapa atau dikenal sebagai "coir" dari India dan Sri Lanka. Sifatnya yang kuat, fleksibel, serta murah membuat serat alami ini sangat ideal dijadikan anyaman penangkap kotoran, yang kemudian melahirkan bentuk felpudo modern seperti yang kita kenal saat ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih dari sekadar alat pembersih alas kaki, felpudo juga memiliki nilai antropologis sebagai simbol transisi antara dunia luar yang kotor dan ruang privat yang bersih. Seiring berjalannya waktu dan masuknya era revolusi industri, fungsi benda ini turut bergeser menjadi media ekspresi diri melalui ragam tulisan unik dan pesan sambutan di depan pintu rumah.