Pengalaman tinggal dan bekerja di 12 negara berbeda dalam kurun waktu satu tahun mengubah cara pandang seorang penulis asal Manhattan terhadap arti sebuah perjalanan. Selama 12 bulan tersebut, ia menjelajahi berbagai belahan dunia mulai dari bermeditasi bersama biksu Buddha di Thailand, menikmati tarian flamenco di Spanyol, hingga membonceng sepeda motor di jalanan Vietnam.
Perjalanan luar biasa itu kini diabadikan dalam sebuah memoir berjudul The Scenic Route Following My Inner Compass Across 12 Countries in 12 Months. Berdasarkan pengalamannya, hal paling berharga yang dibawa pulang bukanlah sekadar cerita liburan, melainkan deretan pertanyaan reflektif yang membentuk ulang sudut pandangnya.
Setibanya di Peru sebagai negara awal, ia dihadapkan pada daftar keinginan para pelancong lain seperti mendaki Machu Picchu hingga berselancar di ombak Pasifik di Kota Lima. Tanpa rencana matang sebelumnya, ia sempat ikut membantu para pelancong lain mewujudkan daftar impian mereka sebelum akhirnya mencicipi hidangan eksklusif berisikan lima kepala piranha di restoran Central.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengalaman menikmati hidangan yang merepresentasikan berbagai ketinggian ekosistem Peru tersebut menyadarkannya tentang pentingnya perjalanan vertikal dibandingkan horizontal. Perjalanan horizontal hanya memperluas cakupan wilayah kunjungan, sementara perjalanan vertikal mampu menggali makna dan rahasia yang tersembunyi jauh di dalam permukaan.
Pelajaran Identitas dan Kebebasan dari Perjalanan
Di Kroasia, kebiasaan menikmati matahari terbenam setiap hari di kawasan pantai Split mengajarkannya nilai dari sebuah rutinitas yang bermakna. Setelah 8 bulan terus-menerus mengejar petualangan serba baru di berbagai negara, ritual sederhana bersama rekan kerjanya di tepi Laut Adriatik justru memberikan apresiasi mendalam yang tidak ditemukan pada kunjungan pertama.
Perjalanan panjang melintasi 12 negara tersebut pada akhirnya memberikan cerminan diri sekaligus peta baru bagi kehidupannya setelah kembali ke tanah air. Kualitas hidup ternyata tidak ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang dimiliki, melainkan keberanian seseorang untuk terus merawat rasa ingin tahu dalam setiap langkah kehidupan.
Pencarian jati diri juga mewarnai perjalanan ketika ia duduk bersila di lantai sebuah kuil Buddha di Chiang Mai, Thailand, berhadapan langsung dengan seorang biksu. Di tengah keheningan kuil, pertanyaan mengenai arah pikiran di saat itu membawanya merenungkan kontras kehidupan antara ketenangan batin dan kemeriahan pertunjukan kabaret yang baru saja disaksikannya malam sebelumnya.
Pengalaman menyaksikan para penampil panggung di Thailand menyadarkannya bahwa kebebasan tidak selalu ditemukan dengan cara melepaskan identitas diri. Kebebasan juga bisa diraih melalui keberanian seseorang dalam mengekspresikan diri secara tulus dan terbuka di hadapan publik.
Thailand memberikan pemahaman mendalam bahwa identitas bukanlah sesuatu yang hanya ditemukan sekali seumur hidup, melainkan sebuah proses berkelanjutan untuk terus menjadi versi diri yang lebih baik. Perpaduan antara keheningan meditasi dan ekspresi panggung memberikan sudut pandang seimbang tentang makna kebebasan.
Setiap negara yang disinggahi selama satu tahun penuh terbukti bertindak sebagai cermin sekaligus peta yang menuntunnya mengenali potensi diri yang belum pernah terungkap sebelumnya. Pelajaran berharga tersebut kini dibagikan kepada pembaca agar setiap orang dapat menemukan makna baru dalam setiap perjalanan hidup mereka.