Keraton Sumenep berdiri megah di jantung Pulau Madura sebagai kompleks kediaman resmi para adipati sekaligus pusat pemerintahan masa lampau. Bangunan bersejarah ini mencerminkan perjalanan panjang kekuasaan lokal yang dulunya memiliki hubungan erat dengan kerajaan besar seperti Singhasari dan Majapahit sebelum wilayah tersebut dikuasai VOC.
Kompleks bangunan karaton yang tersisa utuh saat ini mayoritas dibangun oleh Panembahan Somala atau Pangeran Natakusuma I bersama keturunannya. Berdiri di atas tanah pribadi sang penguasa pada tahun 1781, arsitektur keraton dirancang oleh Lauw Piango, seorang keturunan Tionghoa yang mengungsi akibat peristiwa huru-hara di Semarang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTata letak kompleks keraton menyimpan keunikan tersendiri karena menghadap ke arah selatan, yang berkaitan erat dengan filosofi lokal dan legenda laut selatan. Selain itu, konsep perencanaan tata kota ini berlandaskan prinsip hubungan vertikal dan horizontal, di mana letaknya berseberangan secara simetris dengan Masjid Jamik Sumenep.
Kini, bangunan bersejarah tersebut bertransformasi menjadi museum yang menyimpan berbagai barang peninggalan kerajaan, termasuk prasasti bernuliskan aksara Arab. Keberadaan situs ini menjadi daya tarik wisata budaya penting untuk mengenali lebih dekat warisan leluhur masyarakat Madura.
Arsitektur Unik dan Peninggalan di Dalam Kompleks
Berbagai bangunan penting menghiasi area kompleks keraton, mulai dari Labhang Mesem, Taman Sare, hingga Gedong Negeri yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Setiap sudut bangunan dirancang secara cermat untuk mengakomodasi kegiatan administrasi pemerintahan maupun tempat tinggal keluarga keraton.
Labhang Mesem berfungsi sebagai pintu gerbang utama yang dilengkapi loteng pemantau aktivitas lingkungan sekitar. Di dekat pintu masuk tersebut, terdapat Taman Sare yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian khusus bagi para putra-putri adipati dengan pengamanan tembok tinggi.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, didirikan pula Kantor Koneng yang sempat memicu perdebatan dengan pihak Hindia Belanda. Guna menghindari aturan pemerintah kolonial saat itu, sang sultan berinisiatif mengecat seluruh tembok bangunan dengan warna kuning cerah selaras dengan namanya.
Sisa-sisa kemegahan masa lalu juga terlihat dari keberadaan Kamar Rata sebagai tempat penyimpanan kereta kencana serta kandang kuda kerajaan. Seluruh peninggalan tersebut memperlihatkan sistem tata kelola pemerintahan yang terstruktur rapi pada masa kejayaan Kesultanan Sumenep.