Profil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang kerap disapa Kraton Jogja mencakup sejarah panjang sebagai istana resmi Kesultanan Yogyakarta yang berdiri megah di pusat Kota Yogyakarta. Kompleks istana ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755 sebagai dampak perpecahan Mataram Islam akibat Perjanjian Giyanti.
Luas keseluruhan wilayah keraton mencapai 144 hektar yang meliputi area di dalam benteng Baluwarti, alun-alun, hingga kompleks Masjid Gedhe Yogyakarta, sementara bagian inti kedhaton seluas 13 hektar. Hingga kini, bangunan bersejarah tersebut masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan serta pusat pelestarian tradisi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain menjadi pusat kebudayaan, kompleks keraton juga bertransformasi menjadi objek wisata populer yang menyimpan berbagai koleksi museum berharga. Para pengunjung dapat menikmati keindahan arsitektur istana Jawa terbaik yang dilengkapi balairung mewah serta paviliun luas.
Pembangunan keraton ditandai dengan candrasengkalan Dwi Naga Rasa Tunggal yang bermakna tahun 1756 Masehi. Angka tahun tersebut melambangkan kesatuan, kewibawaan, serta harapan pencapaian kemakmuran bagi sebuah kerajaan yang baru dibangun.
Arsitektur Khas dan Kompleks Inti Keraton Yogyakarta
Secara fisik, tatanan arsitektur Keraton Yogyakarta dirancang langsung oleh Sultan Hamengkubuwana I dengan memadukan gaya tradisional Jawa serta sentuhan budaya asing seperti Portugis, Belanda, hingga Tiongkok. Desain bangunan didominasi oleh struktur Joglo yang terbuka maupun tertutup dinding.
Tata ruang keraton dari utara ke selatan memiliki pola simetris yang terbagi ke dalam tujuh kompleks inti, mulai dari Siti Hinggil Ler, Kamandhungan Ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, hingga Siti Hinggil Kidul. Setiap halaman kompleks utama ditutupi pasir pantai selatan dan dihubungkan oleh regol bergaya Semar Tinandhu.
Bagian atap joglo ditopang oleh tiang utama yang disebut Saka Guru dengan kombinasi warna hijau gelap atau hitam serta ornamen emas dan merah. Penggunaan material berkualitas tinggi seperti batu pualam putih pada lantai memperkuat kesan megah dan kokoh pada bangunan.
Keberadaan Keraton Yogyakarta sebagai lembaga adat yang sarat nilai filosofi membuat kompleks ini dicalonkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995. Warisan budaya berupa upacara adat dan pusaka kerajaan terus dijaga kelestariannya hingga generasi sekarang.