Suku Balik adalah kelompok etnis asli yang mendiami wilayah Sepaku di Penajam Paser Utara dan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Keberadaan kelompok masyarakat ini memegang peran penting dalam sejarah lokal, bahkan penamaan Kota Balikpapan diambil langsung dari identitas serta sejarah suku tersebut di masa lampau.
Berdasarkan catatan sejarah, nama Balikpapan berasal dari kata Balik dan Papan, merujuk pada masyarakat Suku Balik yang dahulu dikenal sebagai penyuplai papan untuk kebutuhan Kerajaan Kutai Kartanegara. Saat ini, populasi Suku Balik menjadi minoritas di wilayah asalnya sendiri, dengan jumlah di kecamatan Sepaku tidak lebih dari seribu jiwa yang tersebar di beberapa kelurahan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeWilayah adat Suku Balik kini berada di dalam kawasan proyek strategis pembangunan IKN Nusantara. Pembangunan ibukota baru tersebut membawa dampak tersendiri bagi warga lokal, termasuk ancaman relokasi ratusan rumah akibat proyek penanganan banjir Sungai Sepaku yang melintasi wilayah permukiman tradisional mereka.
Sebelum bersinggungan dengan modernisasi dan proyek pembangunan skala besar, Suku Balik hidup sangat bergantung pada alam hutan Kalimantan. Mereka memanfaatkan gua-gua alami untuk mengambil hasil hutan seperti sarang burung walet serta berburu satwa liar guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tradisi Unik Ritual Belian dan Tari Ronggeng Balik
Masyarakat Suku Balik memiliki kekayaan budaya dan tradisi turun-temurun yang sarat akan nilai leluhur. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah ritual belian atau belian bawo, sebuah upacara adat pengobatan tradisional yang khas dan berbeda dari kebiasaan suku lainnya.
Ritual belian pada Suku Balik dulunya melibatkan prosesi unik berupa potong lidah sebagai simbol kehadiran roh leluhur, meski saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah karena pergeseran nilai budaya dan pandangan keagamaan. Selain itu, terdapat pula kesenian tradisional Tari Ronggeng Balik yang dipentaskan oleh para perempuan.
Tari ronggeng tradisional mulanya difungsikan sebagai sarana ritual penyembuhan bagi warga yang sakit, dipimpin oleh pemuka adat dengan diiringi musik kendang serta gambus. Penari juga kerap melibatkan penonton melalui interaksi berbalas pantun berbahasa daerah di atas panggung.
Upaya pelestarian bahasa dan budaya Suku Balik terus dijaga oleh generasi tersisa di tengah arus perkembangan zaman dan masuknya gelombang transmigrasi. Identitas Suku Balik tetap menjadi bagian penting dari sejarah peradaban masyarakat lokal di Kalimantan Timur.