Puri Agung Kesiman berdiri sebagai salah satu kompleks puri Kerajaan Badung di Bali yang telah ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Kompleks bangunan bersejarah tersebut terletak di Jalan WR Supratman, Banjar Dajan Tangluk, Desa Kesiman, Kota Denpasar, Bali. Menurut catatan akademisi, tempat ini merupakan satu-satunya peninggalan puri Kerajaan Badung yang masih bertahan hingga kini di bawah penjagaan ahli waris Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana.
Sejarah pendirian bangunan ini memiliki dua versi catatan berbeda di kalangan sejarawan. Sebagian sumber menyebutkan puri dibangun pada tahun 1779 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah kehancuran Puri Satria. Namun, sumber lain menyatakan tempat tersebut didirikan oleh I Gusti Gede Kesiman pada abad ke-19 usai pembagian wilayah kekuasaan kepada kedua anak penguasa sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeranan penting wilayah ini dalam catatan sejarah nusantara mulai terlihat sejak pertengahan abad ke-19 ketika penguasanya diangkat sebagai Adipati Agung di Badung. Kompleks bangunan ini juga menjadi titik awal persinggungan politik penting antara penguasa lokal Bali dan pemerintah kolonial Belanda pada masa lampau.
Memasuki era Revolusi Fisik antara tahun 1945 sampai 1949, kompleks bangunan bersejarah ini sempat dialihfungsikan sebagai markas perjuangan pemuda revolusioner. Tokoh pewaris kala itu, I Gusti Ngurah Kusuma Yudha, memimpin langsung pergerakan kemerdekaan di Pulau Dewata hingga sempat mengalami pengepungan oleh tentara Jepang.
Jejak Perang Puputan Badung dan Arsitektur Klasik
Konflik besar antara penguasa lokal dan kolonial Belanda di kawasan ini memuncak pada 18 September 1906. Pendudukan paksa terjadi setelah Raja Badung dari puri tersebut gugur dalam pertempuran menyusul penolakan pembayaran ganti rugi muatan kapal dagang Belanda Sri Kumala yang terdampar di Sanur.
Peristiwa penolakan tersebut melahirkan perlawanan bersenjata habis-habisan demi mempertahankan kedaulatan wilayah yang kemudian dikenal dalam buku sejarah nasional sebagai Perang Puputan Badung. Perjuangan gigih para raja dan rakyat setempat menjadi simbol perlawanan heroik terhadap ekspansi kekuasaan asing.
Dari sisi tata bangunan, kompleks tersebut menampilkan corak arsitektur klasik yang menunjukkan kemiripan dengan gaya kejayaan masa lampau Majapahit. Di dalam area kompleks terdapat sejumlah tempat suci penting seperti Pura Mrajan Agung, Pura Dalem Sakenan, dan Pura Luwur Uluwatu yang masih berfungsi secara aktif.
Keberadaan situs cagar budaya nasional ini kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan ritual keagamaan umat Hindu setempat seperti odalan, melainkan juga menjadi destinasi edukasi sejarah penting di Kota Denpasar.