John Lie atau yang dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 9 Maret 1911 dan mengukir sejarah gemilang sebagai perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Sosok keturunan Tionghoa ini diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berkat dedikasi dan keberanian luar biasa dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
Perjalanan hidup John Lie bermula dari tekad kuatnya untuk merantau ke Batavia pada usia 17 tahun demi mengejar impian menjadi seorang pelaut. Ia sempat bekerja sebagai buruh pelabuhan dan mengikuti kursus navigasi sebelum akhirnya bergabung dengan Koninklijk Paketvaart Maatschappij serta mendapatkan pendidikan militer di Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKetika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ia pulang ke Tanah Air dan resmi bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia pada Mei 1946 dengan pangkat kapten. Penugasan pertamanya di Cilacap sukses membersihkan perairan dari ranjau peninggalan Jepang guna mengamankan jalur pelayaran strategis.
Nama John Lie semakin melambung ketika ia memimpin misi berbahaya menembus blokade laut Belanda untuk menyelundupkan senjata dan bahan pangan demi mengisi kas negara yang masih tipis. Operasi tersebut menggunakan kapal cepat bernama The Outlaw dengan daerah jelajah meliputi Singapura, Bangkok, hingga Rangoon.
Misi Berbahaya di Laut Hingga Akhir Hayat Sang Tokoh
Dalam menjalankan operasi penyelundupan logistik dan senjata, John Lie kerap menghadapi situasi hidup dan mati seperti lolos dari tangkapan perwira Inggris di Singapura hingga lolos dari todongan senjata pesawat patroli Belanda. Keberhasilan misi tersebut memastikan pasokan senjata dan kebutuhan pokok bagi pejuang di Sumatra tetap terjaga.
Memasuki era kemerdekaan yang stabil, ia dipercaya mengemban berbagai posisi penting termasuk memimpin kapal perang Radjawali serta aktif berpartisipasi dalam penumpasan gerakan separatis seperti Republik Maluku Selatan dan PRRI. Pengabdian panjangnya di dunia militer ditutup pada Desember 1966 dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.
Dari sisi kehidupan pribadi, kesibukan dalam perjuangan membuat John Lie baru menikah pada usia 55 tahun dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw serta secara resmi mengubah namanya menjadi Jahja Daniel Dharma. Tokoh panutan militer ini wafat akibat stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Atas jasa besar serta pengabdian tanpa batas bagi negara, pemerintah menganugerahinya sejumlah tanda kehormatan tinggi termasuk Bintang Mahaputera Utama dan gelar kehormatan Pahlawan Nasional. Warisan keberanian John Lie tetap dikenang sebagai salah satu lembaran paling heroik dalam sejarah kemaritiman Indonesia.