Kedaton Kesultanan Ternate berdiri megah sebagai istana kediaman resmi Sultan Ternate yang mempertahankan arsitektur khas abad ke-19. Bangunan dua lantai tersebut menghadap langsung ke arah laut dan terletak strategis dalam satu kompleks dengan Sigi Lamo atau Masjid Sultan Ternate di kawasan Soasio.
Memasuki area istana, pengunjung akan disambut pintu gerbang bernama Ngara Upas di halaman samping kanan depan. Akses utama menuju istana dilakukan melalui dua buah tangga yang masing-masing memiliki 27 anak tangga, menuju beranda terbuka atau balkon sebelum memasuki ruang tamu lewat pintu khusus bernama Hajral.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKeistimewaan arsitektur istana terlihat pada bagian atas pintu Hajral yang dihiasi prasasti bertuliskan Arab. Prasasti ini memuat catatan sejarah penting mengenai pendirian Kesultanan Ternate yang menjadi bukti kejayaan kerajaan maritim tersebut di masa lampau.
Sejak tahun 1981, sebagian fungsi keraton telah dialihfungsikan menjadi Museum Memorial Kesultanan Ternate. Langkah ini diambil untuk mengamankan sekaligus memamerkan koleksi artefak berharga yang berkaitan erat dengan eksistensi serta pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate dalam jaringan perdagangan rempah dunia.
Peran Strategis dalam Pelestarian Budaya
Kedaton Kesultanan Ternate kini bertransformasi menjadi pusat kegiatan budaya dan edukasi yang vital bagi masyarakat Maluku Utara. Berbagai agenda seperti pameran sejarah hingga pertunjukan seni tradisional sering diselenggarakan di kompleks ini untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup.
Sebagai destinasi wisata sejarah, kedaton kerap menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan pada tahun 2025, tamu kapal pesiar Seabourn Quest disambut dengan tradisi adat Joko Kaha, sebuah bentuk penghormatan tinggi bagi setiap pendatang di wilayah Ternate.
Koleksi Museum Memorial Sultan M. Djabir Sjah di dalam kompleks kedaton mencakup berbagai peninggalan bersejarah, mulai dari singgasana sultan, perhiasan kerajaan, hingga artefak arkeologi dari periode kontak awal dengan bangsa Eropa pada abad ke-15 sampai ke-17.
Peran kedaton meluas sebagai sumber riset penting bagi peneliti sejarah dan budaya. Dengan posisinya sebagai pusat jaringan perdagangan internasional masa lalu, keberadaan situs ini menjadi pilar utama dalam menjaga warisan sejarah Nusantara bagian timur bagi generasi mendatang.