Sejarah dan Perkembangan Hangul Aksara Kebanggaan Korea
Hangul merupakan sistem penulisan modern yang digunakan untuk mengekspresikan bahasa Korea secara tertulis. Aksara ini memiliki berbagai sebutan di berbagai wilayah, seperti Choson'gul di Korea Utara dan Hangeul di Korea Selatan, sementara nama aslinya saat pertama kali diperkenalkan adalah Hunminjeongeum. Penciptaannya menandai babak baru dalam peradaban literasi di Semenanjung Korea.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum penemuan Hangul, masyarakat Korea menggunakan aksara Hanja atau karakter Tiongkok sejak masa antikuitas. Karena struktur bahasa Tiongkok dan Korea sangat berbeda, penggunaan Hanja terbukti tidak efisien dan sulit dipelajari oleh masyarakat luas. Kesulitan ini berujung pada tingginya angka buta aksara di kalangan rakyat biasa selama berabad-abad.
Melihat kondisi tersebut, Raja Sejong the Great dari Dinasti Joseon memutuskan untuk menciptakan sistem penulisan baru yang mandiri dan mudah dipelajari. Aksara ini diumumkan sekitar akhir tahun 1443 hingga awal 1444, kemudian diterbitkan secara resmi pada tahun 1446 melalui naskah Hunminjeongeum Haerye. Meskipun awalnya menghadapi penolakan dari kalangan elit Konfusianisme, Hangul perlahan mendapatkan tempat di hati masyarakat.
Kini, Hangul telah berkembang menjadi salah satu sistem penulisan paling efisien dan diakui oleh para linguis di seluruh dunia. Aksara ini tidak hanya digunakan secara dominan di Korea Utara dan Korea Selatan, tetapi juga diadopsi oleh diaspora Korea di berbagai penjuru global. Keberadaannya kini menjadi simbol kebanggaan nasional serta warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Latar Belakang dan Awal Mula
Kondisi sosial masyarakat Korea sebelum abad ke-15 didominasi oleh penggunaan aksara Hanja yang diadaptasi dari karakter Tiongkok. Keterbatasan akses terhadap pendidikan membuat literasi hanya menjadi hak istimewa bagi golongan bangsawan dan kaum elit istana. Rakyat jelata kesulitan menyampaikan gagasan mereka secara tertulis karena hambatan struktural yang kompleks dari aksara asing tersebut.
Raja Sejong the Great yang memerintah dari tahun 1418 hingga 1450 merasa sangat prihatin atas penderitaan rakyatnya yang tidak bisa membaca dan menulis. Berkat kepedulian yang tinggi terhadap kesejahteraan rakyat, ia memimpin langsung proses perancangan alfabet baru yang sifatnya fonografik. Proses penciptaan ini dilakukan secara cermat dengan memperhatikan prinsip-prinsip fonetik dan bentuk organ wicara manusia.