Asosiasi Tenis Wanita (WTA) resmi memperbarui kebijakan kelayakan mereka dengan mewajibkan seluruh petenis untuk melewati tes genetik sekali seumur hidup agar bisa berkompetisi di turnamen putri. Aturan baru yang sensitif ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada hari Selasa pekan ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Dalam pernyataan resminya pada hari Minggu, WTA menjelaskan bahwa tes untuk gen SRY yang berfungsi menentukan jenis kelamin biologis ini dapat dilakukan melalui sampel usap pipi atau tes darah. Langkah ini mengubah kebijakan sebelumnya yang mengizinkan wanita transgender berpartisipasi asalkan mereka menyatakan gender sebagai wanita dan menjaga kadar testosteron tetap rendah selama dua tahun sebelum bertanding.
"Kelayakan untuk berpartisipasi dalam turnamen WTA akan dikonfirmasi melalui proses skrining wajib satu kali untuk gen SRY," ujar juru bicara WTA seperti dikutip dari Reuters. Pihak asosiasi juga menambahkan bahwa mereka menyadari masalah ini sangat sensitif dan kompleks, sehingga berkomitmen untuk memperlakukan semua pemain dengan bermartabat serta menerapkan kebijakan ini secara penuh rasa hormat.
Hingga saat ini, belum ada wanita transgender yang diketahui aktif di tingkat tenis profesional mana pun. Meski begitu, isu ini terus memicu perdebatan hangat di kalangan mantan atlet dunia. Legenda tenis peraih 18 gelar Grand Slam, Martina Navratilova, menjadi salah satu sosok yang vokal mengkritik keikutsertaan atlet transgender dalam olahraga wanita. Senada dengannya, petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka tahun lalu juga menilai bahwa tidak adil bagi wanita biologis untuk menghadapi pemain transgender.
Di sisi lain, figur legendaris seperti Billie Jean King menganggap pengecualian terhadap kaum transgender sebagai bentuk diskriminasi. Kendati demikian, beberapa federasi olahraga dunia lainnya seperti World Athletics dan World Boxing telah memperkenalkan tes gen serupa dalam beberapa tahun terakhir, diikuti oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang membatasi kategori wanita hanya untuk atlet wanita biologis.