Ratusan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur sepanjang tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Lumajang hingga Juli 2026, tercatat ada sebanyak 241 pasien baru yang dinyatakan positif terpapar virus berbahaya tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mirisnya, dari ratusan penderita baru tersebut, hanya sebagian kecil yang bersedia dan siap untuk menjalani perawatan medis secara rutin. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, dr Marshall mengungkapkan bahwa kesadaran para pasien untuk berobat masih sangat minim.
"Dari 241 ini, yang siap melakukan pengobatan dengan ARV itu 78 orang," ujar dr Marshall saat memberikan keterangan resmi pada Rabu (22/7/2026). Hal ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam penanganan dan pemutusan rantai penularan HIV di wilayah tersebut.
Menurut dr Marshall, sebagian besar penderita HIV lainnya belum bersedia melakukan pengobatan lantaran tidak merasakan gejala klinis apa pun pada tubuh mereka. Kondisi tanpa gejala ini membuat para pasien merasa masih sehat sehingga enggan untuk mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).
"Ada juga yang merasa belum yakin, jadi masih cari tenaga kesehatan lainnya. Ada juga memilih herbal dan ada juga yang malu untuk berobat," papar dr Marshall menambahkan mengenai alasan di balik penolakan para pasien tersebut.
Lebih lanjut, dr Marshall mengemukakan bahwa penyakit HIV hingga saat ini masih mendapatkan stigma negatif yang cukup kental di mata masyarakat luas. Stigma sosial inilah yang memicu ketakutan luar biasa pada diri penderita, sehingga mereka memilih menyembunyikan status kesehatannya karena takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar.
"Sama kayak dulu Covid-19, ketika dinyatakan positif memilih mengobati sendiri, karena khawatir tetangganya nanti tahu. Tapi penyakit HIV lebih dari Covid-19 efeknya, karena sakitnya akan dialami selama seumur hidup," tutur dr Marshall menjelaskan dampak fatal jika infeksi ini dibiarkan tanpa penanganan medis.
Pihak Dinkes P2KB Lumajang juga memetakan sebaran kasus baru penyakit mematikan ini di wilayahnya. dr Marshall mengungkapkan bahwa temuan kasus baru HIV tersebut sudah merata di semua kecamatan yang berada di Lumajang, di mana pergerakan atau mobilitas penduduk menjadi salah satu faktor penentu.
"Seperti ada warga Lumajang merantau, saat sakit baru kembali ke sini. Jadi sejauh ini kasusnya hampir merata," pungkas dr Marshall mengenai kondisi geografis persebaran virus di Lumajang.