Kisah nostalgia laga Bayern Munich melawan FC Barcelona dengan skor telak 8-2 di masa pandemi korona beberapa tahun lalu kembali dikenang oleh komunitas pencinta sepak bola dunia. Pertandingan tersebut berhasil mengguncang dunia sepak bola secara masif, mengingat tidak ada tim besar lain yang pernah dipermalukan sedemikian rupa di panggung global sejak kekalahan Brasil atas Jerman.
Berdasarkan laporan Bavarian Football Works, situasi saat itu berada dalam cengkeraman isolasi mandiri global di mana praktis tidak ada cabang olahraga lain tayang di televisi. Hal tersebut menjadikan duel raksasa Eropa ini sebagai satu-satunya pusat perhatian utama bagi seluruh pencinta olahraga di berbagai penjuru dunia.
Sebelum pertandingan dimulai, pengamatan Kabayan News menunjukkan betapa tingginya tingkat kecemasan yang melanda para pendukung setia Die Roten. Publik sama sekali tidak memprediksi kemenangan sebelah mata, mengingat atmosfer ketegangan begitu terasa pekat di ruang diskusi suporter.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePilihan susunan pemain yang diturunkan oleh pelatih Hansi Flick sempat memicu kebingungan serta perdebatan hangat di kalangan suporter. Keputusan untuk memainkan Ivan Perišić ketimbang Kingsley Coman awalnya dipertanyakan, sebelum akhirnya keputusan taktis tersebut terbukti berbuah manis lewat kontribusi luar biasa penyerang asal Kroasia itu.
Suasana forum diskusi langsung bergemuruh ketika Thomas Müller membuka keunggulan lebih dulu bagi wakil Jerman tersebut. Namun, kegembiraan sempat berubah menjadi kepanikan sesaat setelah David Alaba mencetak gol bunuh diri yang menyamakan kedudukan bagi Blaugrana.
Ketegangan suporter kembali mencair setelah Ivan Perišić dan Serge Gnabry bergantian mencatatkan nama di papan skor untuk memperlebar keunggulan tim tamu. Gol demi gol yang tercipta pada babak pertama membuat para penggemar di komunitas daring perlahan mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka.
Memasuki babak kedua, situasi pertandingan semakin memanas tatkala Barcelona sempat memperkecil ketertinggalan lewat gol kedua mereka. Gol tersebut sempat memberikan hantaman psikologis yang cukup berat bagi mental rapuh para suporter yang menyaksikan laga dari rumah.
Titik balik emosional suporter mencapai puncaknya melalui aksi individu brilian Alphonso Davies yang memberikan assist magis sebelum dituntaskan oleh Philippe Coutinho dan Robert Lewandowski. Kemenangan mutlak 8-2 ini diabadikan sebagai momen monumental yang mengukuhkan dominasi total skuad asuhan Hansi Flick menuju tangga juara Liga Champions musim tersebut.